Tampilkan postingan dengan label inspirasi pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juli 2013

Makan Bermakna

Ketika kulihat salah satu ponakanku makan (malam). Aku sempat tercenung dan tergelitik.

Saat itu, dia makan sambil disuapi. Si penyuap sibuk dan bawel menyuruh anak tersebut mengunyah dan menelan makanannya. Sementara si Anak dengan santainya bermain tablet dan tidak pernah mengalihkan mata dan tangannya dari tablet yang sedang dipegangnya.

Tidak ada yang aneh dengan pemandangan tersebut. Kegiatan makan berlangsung cukup cepat. Sepertinya si Anak melakukan "makan" tanpa berpikir ataupun menikmati makanan yang ada di mulutnya. Sementara si penyuap hanya berupaya agar makanan di piring segera ludes.

Hmmm.... fenomena ini mungkin terjadi di tempat lain. Anak yang sudah lebih besar (remaja) mungkin makan sambil tangannya "wirid" dengan HP atau BB nya. Mereka tak lagi menikmati rasa makanan yang masuk ke perutnya.

Berbeda sekali dengan jaman aku kecil dulu. Mbah kakungku selalu membiasakan aku dan om-om ku untuk makan sambil duduk di meja makan tanpa melakukan aktivitas apapun. Kami diajak berdoa bersama dan mbah selalu bilang bahwa kita harus bersyukur, atas makanan yang kita makan hari ini. Aku sangat menikmati makanan (apapun) yang kami makan meskipun amat sangat sederhana (misalnya ikan hasil wuwu di sungai, urap dari tanaman di halaman rumah atau "entung"/jangkrik/belalang/keong goreng).

Kegiatan makan mungkin bukan hal yang penting bagi sebagian orang tapi kegiatan tersebut merupakan sarana untuk mengisi energi tubuh. Aku tidak paham tentang bagaimana metabolismenya. Namun dari segi pendidikan, sebaiknya kegiatan makan dijadikan sebagai salah satu ajang menanamkan nilai-nilai moral dan sosial emosional. Melalui kegiatan makan ini, anak di ajarkan untuk menyukuri rejeki yang diterima dari Allah, menyadari bahwa sebutir nasi itu membutuhkan proses yang panjang dan sulit untuk sampai ke mulut , mengingatkan bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung kita dalam hal makan, ajang makan merupakan tempat untuk menjalin silaturahim antar sesama anggota keluarga karena pada saat makan (terutama makan malam) itulah seluruh anggota keluarga dapat berkumpul bersama dan pentingnya otak mengatur metabolisme secara fokus dengan hanya melakukan satu kegiatan saja saat makan.

Jadi ada baiknya bagi orangtua atau orang dewasa untuk "kembali" membiasakan makan dengan cara dan tempat yang benar.

*yuk mulai dari keluarga dan anak kita sendiri*

Rabu, 11 November 2009

IBU GURU CENTIL

Pendahuluan
Kisah ini aku alami saat aku mengajar di kelompok B. Kisah ini salah satu strategi atau metoda yang aku dapatkan tanpa di sengaja. Mungkin ini hanya sebuah kasus yang tidak dapat digeneralisir. Namun pengalaman ini dapat menjadi inspirasi bagi guru atau pendidik lain dimanapun berada. Terutama bagi mereka yang mengalami atau memiliki murid yang hampir sama dengan muridku ini, yaitu anak yang menderita Autism yang berada pada tingkatan ringan. Semoga tulisan ini dapat memberi pencerahan bagi guru TK dimanapun berada.


Isi Cerita
Saat ini aku mengajar di TK kelompok B. Murid-muridku rata-rata berusia 5 – 6 tahun. Hampir semua muridku tergolong anak-anak yang normatif (memiliki perkembangan yang normal). Namun ada satu anak, namanya Ami. Saat masuk ke kelasku.... dia sudah dari kelompok A. Jadi tahun ini adalah tahun kedua di TK baginya.
Ami adalah anak dengan kebutuhan khusus. Dia menderita autism pada taraf yang ringan. Sejak pertama kali masuk ke kelasku, aku sudah mulai mengobservasi dan memperhatikan segala gerak-gerik dan perilaku Ami.
Dari segi fisik, Ami tidak menunjukkan perbedaan dengan teman-teman sebayanya. Tubuhnya tinggi kurus, rambutnya lurus dan selalu tersisir rapi. Matanya jernih dan pendengarannya juga termasuk normal. Jika dipanggil, dia akan menengok, meskipun belum pernah dia menyahut dan memperdengarkan suaranya.
Perilaku Ami juga tidak terlalu menunjukkan jika dia menderita autism. Kebiasaannnya yang dilakukannya saat datang di pagi hari adalah mencariku dan menyalamiku, lalu meletakkan tasnya di tempat yang telah ditentukan. Setelah itu dia akan keluar lagi dan bermain di ayunan. Ayunan yang digunakan adalah ayunan yang berwarna merah. Ami tidak pernah berpindah pada ayunan yang lain Aku tak tahu mengapa dia selalu duduk dan bermain-main di ayunan tersebut. Padahal di TK kami ayunan cukup banyak. Di halaman depan ada 4 buah ayunan. Dua bertali rantai besi dan 2 lagi bertali tambang yang cukup besar. Di halaman belakang terdapat dua lagi ayunan yang terletak di bawah pohon belimbing. Ayunan ini sangat diminati anak-anak, karena letaknya di tempat yang teduh dan ayunannya tidak terlalu tinggi.
Di ayunan, Ami tidak bermain sesuai fungsi ayunan tersebut. Dia hanya duduk di situ deengan posisi miring ke salah satu tali lalu dia asyik sendiri memainkan kuku atau rambutnya. Dia tidak peduli pada suasana lingkungan di sekitarnya. Dia asyik dengan kegiatannya sendiri. Dia juga tidak pernah mau berbagi ayunan tersebut dengan anak lain.
Saat bunyi bel tanda waktunya pembelajaran akan dimulai, Ami akan berlari seperti anak-anak yang lain. Dia akan segera menuju halaman depan kelas tempat seluruh anak berkumpul untuk berbaris. Ami juga sudah tahu dimana posisi anak-anak kelompok B yang sekelas dengannya. Aku tidak perlu memanggil atau menyuruhnya berbaris dengan baik. Dia telah dapat melakukan semua itu sendiri dan dia sangat tertib.
Di dalam kelas, Ami selalu duduk pada kursi yang sama yang terletak pada kelompok yang berada tepat di depan meja guru. Namun dia memilih kursi yang paling jauh dengan ibuguru. Walaupun demikian, aku tetap bisa memandang dan mengawasinya setiap saat.
Penataan kursi dalam kelasku memang aku bagi dalam tiga kelompok hingga posisinya membentuk huruf U. 10 kursi di bagian kiri, 8 kursi di bagian tengah dan 10 kursi lagi di bagian kanan. Setiap anak mendapat satu meja dan satu kursi. Setiap anak duduk berhadapan dengana satu anak lainnya. Nah… Ami duduk di kursi pojok pada sayap kanan. Di depannya sering kali anak laki-laki.
Hampir setiap hari, kegiatan utama Ami adalah menggigiti kuku tangannya. Sudah berulang kali dinasehati namun hal itu tetap menjadi keasyikan baginya. Kuku pada tangannya bahkan hampir habis digigitinya. Jika dia bosan dengan kuku tangannya, dia akan mulai menaikan kakinya ke atas meja lalu mulai menggigiti juga kuku kakinya. Segala usaha telah aku lakukan, namun tak jua membuatnya berhenti menggigiti kuku kakinya.
Hal lain yang menjadi pemikiranku adalah, Ami tidak pernah mau bicara. Padahal, saat dia sendirian beberapa kali aku mendengar suaranya. Meskipun hanya sepatah-sepatah. Aku benar-benar penasaran. Mengapa dia tak jua mau bicara meskipun sudah dipancing dengan berbagai cara.
Siang itu saat istirahat, aku menemukan sebuah jepit rambut kecil berbentuk stroberry berwarna merah dengan bintik-bintik hitam. Karena sudah waktunya masuk kelas dan anak-anak harus segera dipulangkan, maka jepit tersebut aku jepitkan di rambutku yang memang tergerai panjang. Jepit tersebut aku jepitkan ke rambut bagian depan hingga rambutku tertarik ke belakang. Hmm… tampak aneh memang, mengingat usiaku yang sudah tidak muda lagi.
Aku masuk ke kelasku dan meminta anak-anak untuk membuat setengah lingkaran di karpet karena sekarang saatnya mengulas kegiatan yang tadi sudah dilakukan.
Tiba-tiba Ami menghampiriku.
“Tami…!” suaranya terdengar kecil melengking.
“Ada apa sayang” tanyaku terheran-heran.
“Tami…!” suaranya kembali terdengar, pelan namun cukup tinggi dan jelas.
“Iya…. Ami mau apa?” tanyaku sambil mengelus pipinya.
“Nuuuh…..” suaranya terdengar halus

Ami tampak memandangiku tanpa berkedip. Aku bingung sendiri. Ada apa sebenarnya, apa yang Ami inginkan? Apa yang Ami maksudkan? Apa yang dia katakan?
“Sebentar ya Sayang, sekarang kita bercakap-cakap dulu ya…..” Aku mendudukan Ami di sebelahku. Dia duduk di sampingku, namun pandangan matanya tetap menatap ke arahku, seolah takut ada yang hilang saat dia berkedip.

Setelah semua anak pulang, aku mengajak Ami duduk di halaman sekolah.
“Nah… sekarang kita tinggal bersua, Ami mau apa?” tanyaku sambil menatap matanya.
“Tami…. Tami…” teriaknya masih dengan sera yang melengking.
“Iya…. Ini Ibu Tatmi. Ami mau apa dari Ibu Tatmi? Tanya ku mencoba memperjelas uacapannya.
“Nuuuh…..” matanya menatap kea rah rambutku.
“Ada apa di rambut Ibu Tatmi?” tanyaku sambil mengusap rambutku. Dan Ups…. Aku menyentuh jepit yang tadi kupasang di rambutku. Rupanya aku lupa kalau saat ini aku mengenakan jepit rambut.
Aku tarik dan aku lepas jepit tersebut, lalu aku arahkan ke hadapan Ami.
“Ami suka jepit ini? Tanyaku sambil menunjukkan jepit itu.
“Ka…..” Ami menjawab sambil tertawa terkekeh-kekeh
“Ami suka?” tanyaku lagi
“Ka….ka…” Ami menjawab sambil melompat-lompat kecil di hadapanku.
“Oooo…. Su… ka… coba Ami bilang… suuu…kaaaa” kucoba menuntunnya secara perlahan.
“Suuu… ka…. “ Ami mengikuti kata-kataku sambil tertawa-tawa dan melomp[at-lompat.
“Ami mau?” tanyaku
“Suuu…kaaa….” Jawab Ami tetap sambil melompat-lompat.
“Bilang… maa…uuuuu…” aku menuntunynya untuk mengucapkan kata “ mau”.
“Mauuuu…..” Dia beretriak sambil berusaha mengambil jepit yang ada di tanganku.
“Pandai… Nah…. Ini untuk Ami…. Tapi bilang dulu… terima kasih Bu….” Kataku sambil mengangkat jepit itu tinggi-tinggi hingga Ami tidak dapat menjangkaunya.
“Ciiihhh….”teriak Ami.
“Terima……. “ aku coba menuyntunnya secara perlahan.
“Timaaa….” Ami menirukan ucapanku
“Kassiiih…” aku melanjutkan
“Kacih…. “ sahut Ami.
Aku memberikan jepit itu padanya lalu mengantar Ami ke jemputannya.

Aku merasa bahagiaaa sekali…. karena hari ini aku bisa mengajak dan meminta Ami mengeluarkan suara kepadaku. Dia meresponku. Aku bahagiaaa sekali. Walaupun berarti aku harus mencari dan membeli jepit yang sama persis dengan yang diminta Ami karena itu kan bukan milikku dan aku harus mengembalikan pada anak yang kehilangan. Tapi aku tak peduli aku benar-benar bahagia.

Esoknya aku benar-benar beruah menjadi guru yanag centil. Setiap hari aku memakai jepit yang berbesa-beda, berganti-ganti model dan warnanya. Setiap pulang mengajar aku selalu mampir di pasar dan mencari jepit rambut yang lucu-lucu dan menarik. Semua ini aku lakukan untuk menarik perhatian Ami dan agar Ami mau bicara dan bercakap-cakap denganku.

Memang usahaku tidak sia-sia. Meskipun ucapan-ucapan Ami kadang hanya satu suku kata, tidak jelas dan perlu pemikiran lebih ldalam, namun aku senang karena Ami benar-benar menanggapi setiap pertanyaan yang aku ajukan. Saat di minta memilih jepit mana yang dia inginkan, dia akan menunjuk pilihannya. Saat kutanya kenapa dia suka yang ini, dia akan menjawab alasannya. Misalnya “ning…” artinya dia suka jepit itu karena warnanya kuning.

Penutup
Beberapa hal yang aku dapatkan tentang Ami( penderita Autism tingkatan yang ringan)
- Anak suka asyik sendiri dengan dirinya sendiri
- Anak tidak peduli apapun yang terjadi di sekitarnya
- Apabila dia berminat pada sesuatu maka dia akan mengejar sampai mendapatkan
- Masih bisa dan mau merespon asal pendidik sabar menanggapinya
- Anak autispun bisa menentukan pilihan sesuai minatnya dan member alas an pilihannya.
- Guru/pendidik perlu kepekaan khusus untuk menanganai anak karena setiap anak memiliki keunikan tersendiri.
- Guru harus kreatif dan penuh ide untuk menangani anak yang memiliki kebutuhan khusus

Senin, 09 Februari 2009

“SMURF” STRATEGI UNTUK MENANGANI ANAK YANG SUKA BICARA "JELEK"

“Dasar! Bu guru jelek!”
“Bego Luh!”
“Sialan… Brengsek… Anjing Luh…”
Ucapan-ucapan tersebut seringkali kudengar dari mulut seorang muridku yang berwajah imut.

Danu (sebut saja begitu namanya) adalah anak yang lucu. Usianya baru 4 tahun. Wajahnya imut dengan pipi gembul seperti Bakpau. Pipinya selalu bersemu merah seperti udang yang baru diangkat dari rebusan. Sebenarnya dia adalah anak yang menyenangkan dan menggemaskan. Tubuhnya yang gempal dan bullet membuatnya disenangi semua guru dan staf di sekolah. Namun ada satu hal pada dirinya yang kurang disukai. Danu seringkali berkata kasar dan kotor. Saat dia marah atau kecewa maka nama-nama binatang di kebun binatangpun bermuncratan dari mulutnya. Bahkan dia tak peduli siapa lawan bicaranya, kata-kata itu tetap saja akan segera keluar dari terowongan di mulutnya seperti air bah yang tak bisa dibendung.

Aku sebagai gurunya, sering kali terperangah dan terjengah jika mendengar kata-kata dan kalimat “aneh” atau bahkan “beracun” itu keluar dari mulutnya. Bukan hanya kepada teman-temannya Danu melontarkan “racun” tersebut. Iapun kerap memuncratkan kata-kata tersebut kepada mamanya bahkan kepadaku sebagai gurunya atau bahkan kepada orang tua lain yang kebetulan menyinggung perasaannya.

Aku mencoba mencari tahu mengapa Danu sering kali bersikap dan berkata-kata kasar seperti itu. Aku bertanya pada mamanya yang selalu mengantarnya ke sekolah. Informasi yang kudapat adalah bahwa Danu suka sekali menonton film kartun di televisi. Film yang disukai adalah Shincan dan Ranger. Danu juga suka sekali bermain dengan teman-temannya di luar kompleks perumahan. Hampir setiap sore dia bermain bersama anak-anak “kampung” (mamanya menyebut demikian untuk anak-anak yang tinggal di luar di kompleks tersebut). Menurutnya teman main Danu tersebut hampir semua adalah anak-anak yang berusia di atas Danu dan sudah duduk di bangku SD maupun SMP. Danu juga dekat sekali dengan pembantunya yang lumayan cerewet dan cenderung banyak bicara. Mama Danu mengatakan, bahwa dirinya serta papanya Danu sering menegur Danu bahkan tidak jarang memarahi atau bahkan memukul mulut Danu saat anak tersebut mengeluarkan kata-kata yang kurang baik tersebut. Namun hal itu belum berhasil merubahnya bahkan perkataan Danu semakin hari semakin kasar dan kotor. Kata-kata (mungkin lebih pantas jika disebut umpatan) yang paling sering diucapkan adalah (Maaf…!) “Anjing!, Babi!, Monyet!, Bangsat!, Sialan!, pelacur!, Jelek!, Tai!, Tai Kucing!, Mampus!” (Woooow banyak banget yaaa?).

Setelah mendapatkan data-data tersebut, aku kemudian berembug dengan guru yang membantuku di kelas. Oh… ya, di kelas (ruangan kelas) ini aku mengajar berdua untuk 2 kelompok. Aku wali kelas kelompok B2 dan Ibu Uti, wali kelas kelompok B1. Kami masuk pagi dan siang secara bergantian. Pergantian waktu ini dilakukan sebulan sekali. Saat kelompok B2 belajar maka Ibu Uti bertindak sebagai guru bantu demikian pula sebaliknya.

Kembali… ke Lap top…..

Aku dan Bu Uti mencoba menelaah dan menganailis data yang sudah kami peroleh dari mama Danu. Selain itu kami juga mencari informasi pada pihak-pihak lain seperti pembantu yang sering menemani Danu di rumah, anak-anak yang sering bermain bersama Danu dan aku juga mencoba menonton film (kesukaan Danu) Shincan dan Ranger yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi.

Hasil yang kami peroleh adalah bahwa semua hal tersebut sangat mendukung dan menyuport Danu untuk berkata-kata kasar. Teman-temannya di sekitar rumah memang sering mengeluarkan umpatan dengan kata-kata kasar dan kotor saat bermain. Meskipun mereka melakukannya sambil bercanda dan tertawa-tawa. Tokoh Shincan juga tak jarang mengucapkan kata-kata yang kurang baik dan kurang enak di dengar dan tokoh yang digemari anak-anak ini sering menunjukkan sikap melawan atau berbuat tidak sopan pada orang tuanya (terutama ibunya). Demikian pula dengan film Ranger yang sering mengeluarkan ungkapan yang tidak layak didengar anak-anak (padahal film ini kan untuk konsumsi anak-anak ya?). Sedangkan pembantu yang dekat dengan Danu sering kali “latah” dan mengelurkan kata-kata yang sama jorok dan kasarnya dengan anak-anak “kampung” yang tinggal di sekitar kompleks tersebut. Data yang tak kalah mengejutkan adalah bahwa ternyata ayah Danu, saat marah juga akan sangat meledak-ledak dan juga akan mengeluarkan kata-kata umpatan yang “WOW!”

Semalaman aku ngubek-ngubek buku-buku, teori dan berbagai diktat serta makalah hasil seminar yang aku miliki. Setelah berkutat dengan buku-buku, diktat dan kertas-kertas tersebut dan setelah aku berpikir dan merenung cukup lama. Aku pindah ke kamar anakku. Aku coba-coba mencari inspirasi dari buku-buku milik anakku yang sekarang sudah mulai ABG (Anak Baru Gede). Tiba-tiba, aku menemukan buku cerita anak (komik) diantara tumpukan buku-buku usang. Hmmm... komik ini paling kusuka saat aku masih anak-anak (bahkan sampai aku remaja dan masih sampai sekarang). Aku juga ingat, anak-anakku suka banget dengan komik ini. Yaa… buku itu adalah komik SMURF. Dalam komik itu, para smurf mengganti kata-kata tertentu dengan kata "smurf" dan kita para pembacanya harus berpikir untuk menerjemahkannya. Kita harus mengartikan kalimat yang diucapkan dan nge pas-pas in sendiri, sesuai dengan imajinasi kita sendiri. Hmmm.... akupun terinspirasi dengan komik tersebut dan akan mencobanya pada Danu dan anak-anak di kelasku. Akupun menyampaikan gagasanku ini pada Ibu Uti.

Pada saat aku sampaikan gagasanku itu, Ibu Uti meragukannya. Menurutnya Danu sudah parah dan tidak akan bisa diubah lagi. Namun aku bersikukuh untuk mencoba menerapkannya. Paling tidak, seandainya tidak berhasil…. Aku pernah mencobanya.

“Anak-anak, hari ini Ibu akan menyampaikan peraturan baru di kelas kita” Pandangan mataku menyapu seluruh mata anak-anak di kelasku satu persatu.

Kalo makan harus duduk tenang ya Bu”
“Kalau nulis harus sampai selesai….”
“Ngga boleh lari-lari dan kejar-kejaran di dalam kelas ya Bu”
“Harus antri seperti bebek kan?…”


Anak-anak langsung mengemukakan aturan-aturan yang memang sudah kami terapkan selama ini.

“Bukan, sayang….. Kali ini peraturannya baru, yaitu … setiap kali kita semua akan marah dan akan mengeluarkan kata-kata yang jelek, kita harus menahannya sampai di leher saja. Lalu kita harus mengeluarkannya menjadi kata-kata yang bagus. Nah kira-kira kata apa yang akan kita keluarkan kalau kita lagi kesal?

Merdeka! “
“Halo…”
“Ampun…”
Sayang!’
“Hore!”
“Amin!”
“Bu guru!”
Aku menuliskan kata-kata yang dikemukakan anak-anak di papan tulis. Aku menuliskannya setinggi anak-anak. (Hmmm… ternyata anak-anak didikku pandai-pandai semua…. Mereka menyampaikan idenya dengan baik).


“Nah…. Anak-anak, sekarang kita harus pilih kata-kata yang mana yang akan kita gunakan dan kita keluarkan kalau kita sedang kesal dan ingin mengeluarkan kata-kata yang jelek dan tidak enak di dengar?” kataku dengan ekspresi meminta pendapat.

“Kan tidak mungkin kita menggunakan semuanya? Nanti malah bingung..?” aku melanjutkan.

“Bu, bagaimana jika kita lakukan pemilihan, setiap anak membuat garis tegak di sebelah kata-kata yang dipapan tulis?” Ibu Uti menyampaikan sarannya.

“Bagaimana anak-anak?” tanyaku meminta pendapat anak-anak.

Ternyata semua anak setuju. Maka pemilihan pun dilakukan. Setiap anak maju satu persatu ke papan tulis dan menuliskan garis tegak di depan kata-kata yang dipilihnya. Bagi anak yang belum bisa membaca aku dan Bu Uti membacakan kata-kata tersebut hingga dia bisa menentukan pilihannya dengan tepat. Setelah semua memberikan pilihannya, termasuk aku dan Ibu Uti, maka hasilnya dihitung bersama-sama. Kemudian disepakati kata yang akan digunakan adalah “Hore!” dan “merdeka!” Hari ini disepakati juga bahwa individu yang melanggar akan mendapat sanksi yaitu akan di teriaki dengan teriakan “Huuuu!” lalu disuruh melompat dengan dua kaki sebanyak lima kali.


"Sepakat?"
"Sepakat!"

"Oh... ya, kata-kata jelek yang tidak boleh diucapkan apa saja yaa....?" Tanyaku kembali meminta pendapat anak-anak.

"Ngatain Anjing!...."
"Ngatain monyet!"
"Bilang bangsat sama sialan!"
"Ngatain bu guru jelek"

"Ok...ok... pokoknya semua kata dan kalimat yang kurang baik tidak boleh diucapkan di sekolah maupun di rumah atau dimana saja. Setiap kalian mau berkata-kata... kalian harus berpikir dahulu.... kata itu bagus atau tidak... kalau jelek harus diganti dengan kata "hore atau merdeka" Aku menjelaskan panjang lebar.

"Bagaimana, anak-anak? sepakat kan?"

"Sepakat!" anak-anak berteriak secara serempak.




Keesokan harinya mulailah peraturan baru tersebut.

“ Bu guru.aku mau…E….hore!” Dimas memulai dengan agak malu-malu.
“ Boleh sayang, kamu boleh hore di kamar mandi ya…?” aku menanggapinya sambil tersenyum.



“Dasar sialan!” tiba-tiba Danu berteriak karena kertas yang sedang diwarnainya sobek.
“Huuuuu….” Seluruh murid meneriaki Danu.
Danu tampak bingung dan hampir marah. Dia menarik napas panjang dan bersiap-siap memuncratkan kata-kata dan kalimat yang biasa dia keluarkan….

“Danu… sesuai kesepakatan…. Kamu boleh berteriak dan mengeluarkan kata-kata “hore” atau “merdeka” jika kamu ingin mengumpat dan mengeluarkan kata-kata yang biasa kamu ucapkan”

“Uuuhhh…. Bu guru… hore” teriak Danu
“Aku “merdeka” sama bu guru “ Danu melanjutkan kembali dengan wajah merah merona.



Pada awalnya memang anak-anak masih kesulitan dan masih suka lupa. Terutama Danu. Satu minggu pertama dia hampir setiap saat disoraki teman-temannya dan melompat-lompat dengan dua kaki di tempat sebanyak 5 kali. Namun setelah beberapa kali disoraki, dia tidak lagi emosi, dia hanya tersenyum setelah disoraki, sambil menutup mulutnya.

Setelah satu bulan menerapkan aturan ini, tampak banyak perubahan yang terjadi pada anak-anak didikku. Mereka bisa nyambung dengan kalimat yang diucapkan temannya meskipun diganti dengan kata-kata merdeka atau hore. Selain itu, anak-anak juga tampak menjadi lebih sabar dan tidak mudah marah. Mereka juga lebih bisa mengetahui dan mengakui kesalahannya dan dapat segera memperbaikinya.

Perubahan yang sangat besar terjadi pada Danu. Dia tidak lagi senang mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar dan jorok. Saat hendak marah, dia akan terdiam dahulu sesaat sebelum akhirnya mengeluarkan kata “hore” dan/atau “merdeka”. Danu menjadi lebih sabar dan wajahnya semakin sumringah serta lucu. Dia selalu tersenyum dan semakin menggemaskan.

Menurut Mamanya, di rumah, Danu mengajarkan cara yang sama pada teman-teman mainnya. Meskipun teman-temannya lebih besar dan lebih tua usianya dibanding Danu. Papanya pun melakukan hal yang sama dan manyatakan bahwa cara ini sangat efektif diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dia menjadi lebih bisa menahan emosi dan berpikir lebih panjang sebelum mengungkapkan isi hatinya. Hal ini karena Danu selalu protes jika papanya mengeluarkan kata-kata yang kurang baik.

Hmmm….. aku senang. Meskipun strategi yang aku terapkan terkesan main-main dan tidak serius namun bisa menghasilkan sesuatu yang aku anggap “cukup bermakna”. Strategi ini bisa digunakan untuk menangani anak-anak yang “suka” atau “terbiasa” bicara kasar dan/atau kotor. Memang hal ini bersifat kasuistik tetapi tidak ada salahnya strategi atau cara ini dicoba untuk menangani kasus yang sama. Aku hanya ingin berbagi dan menyampaikan pengalamanku sebagai guru. Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman guru dimanapun Anda mengajar.

Akhir kata saya ingin menyampaikan bahwa “tidak ada satu metode/strategi/cara yang terbaik untuk satu pembelajaran tertentu dan tidak ada satu pembelajarn yang paling baik hanya dengan menggunakan satu strategi/metode/cara saja. Semuanya sebaiknya dilakukan secara sistematik, berkesinambungan dan terpadu hingga hasil yang diperoleh merupakan hasil yang paling optimal”


Salam,
“Anak kita adalah masa depan dunia. Perilaku mereka adalah cermin pendidikan kita”

Rabu, 28 Januari 2009

PENGENDALIAN EMOSI PADA ANAK USIA DINI

Kisah ini merupakan pengalamanku sebagai guru. Strategi yang aku terapkan mungkin hanya berupa kasus dan belum tentu cocok bila digeneralisir pada anak-anak lain di usia yang sama atau pada permasalahan yang sama. Namun tidak menutup kemungkinan, cara (strategi?) ini bisa berhasil diterapkan pada anak-anak tertentu yang mengalami masalah yang sama. Nama-nama pada kisah ini sebagian adalah nyata dan sebagian disamarkan untuk menjaga hal-hal yang tidak diharapkan. Namun kejadian adalah nyata.



“Bu guru…. Diah nangis tuh!” Andin berteriak sambil menunjuk ke Diah yang sedang menangis sesenggukan.

“Kenapa?” aku bertanya sambil berlari menghampiri Andin yang duduk di meja paling belakang.
Aku merasa bersalah karena sebagai guru aku tidak tahu kejadian di salah satu sudut kelasku.

“Kenapa sayang”

“Malik yang pukul dia Bu…” Doni menunjuk pada Malik yang tampak berdiri mematung di samping bangkunya.

Tiba-tiba, Malik berlari ke arah Doni dan langsung memukul Doni dengan kepalannya. Doni menjerit dan berlari ke arahku sambil memegangi pipinya. Aku memeluknya dan mengusap-usap pipinya yang tampak merah.

Setelah kedua anak ini reda tangisnya, aku berdiri dan mendekati Malik yang duduk di bangkunya sambil bertopang dagu dengan wajah cemberut.

Malik adalah anak yang cerdas. Kemampuan logika matematikanya sangat bagus untuk anak seusianya. Demikian juga dengan kemampuan berbahasanya. Bahasa ekspresif maupun represifnya sangat baik. Saat berbicara, Malik menggunakan Bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan). Tutur katanya selalu tertata dengan sangat baik. Dia juga anak yang sangat sopan dan sering berempati pada teman. Namun ada satu hal yang membuatnya kurang disukai teman-teman sekelasnya di kelompok B ini. Malik sangat mudah marah. Dia juga ringan tangan dalam arti mudah sekali memukul atau menyakiti teman-temannya. Dia cepat sekali meledak. Hanya tersenggol sedikit saja dia akan langsung melayangkan tinjunya. HAnya karena masalah yang sangat sepele dia bisa marah. Dia tak peduli siapapun yang membuatnya kesal pasti akan mendapat balasan tinju atau tamparan darinya. Satu hal lagi, Malik juga senang menggigit. Semua hal itu akan dilakukannya apabila dia merasa ada yang mengganggunya. Hampir setiap hari ada saja anak yang menangis karena ulahnya. Ternyata hal ini tidak hanya terjadi pada anak-anak di kelasku saja. Anak-anak di kelas yang lain juga sudah banyak yang menjadi korbannya.

Sebagai ibu gurunya aku lumayan bingung mengatasi perilaku Malik ini. Banyak hal yang sudah akau lakukan agar perilaku buruk ini berkurang. Hal-hal yang kulakukan misalnya memarahinya, merayunya, mendiamkannya, meminta anak yang disakiti membalasnya bahkan aku pernah menghukumnya dengan tidak mengijinkannya bermain saat istirahat. Aku juga mencari informasi pada keluarga dan tetangganya. Aku minta bantuan pada orang-orang di rumahnya. Aku meminta bantuan dari guru-guru dan staf di sekolah. Namun semua upaya tersebut belum membuahkan hasil.

“Hmmm… apa lagi yang aku harus lakukan?”

“Bagaimana mengatasi perilaku Malik ini?”

“Uuuhhh…. ????!!!!!” Aku hampir putus asa.




“Selamat pagi Bu guru…. “

“Selamat pagi, Malik…”

“Wah…. Ibu guru hari ini tampak cantik sekali…”

“Terima kasih Malik… hari ini kamu juga tampak gagah dan hebat”

“Ibu guru, dapat salam dari ayah saya….”

“Oh… ya, terima kasih yaa….. nanti Ibu guru akan telepon ayahmu dan mengucapkan terima kasih untuk salamnya…”

“Iya… Bu, Ayah Malik pasti senang sekali menerima telepon dari Bu guru…”

Ya… itu percakapanku dengan Malik tadi pagi. Dia tampak sangat santun dan tidak menunjukkan bahwa dia termasuk salah satu “trouble maker” yang ditakuti teman-temannya.





Saat ini anak-anak sedang memcap dengan daun. Semua anak tampak sangat serius dan tampak gembira. Tiba-tiba…

“Wah Malik kok gambar daunnya ngga nyata?” Andi bertanya pada Malik

Aku menoleh ke arah Malik dan Andi, dan…

“Malik!... tolong turunkan tanganmu!” perintahku dengan kata-kata yang tegas. “Kamu tidak boleh memukul sembarang orang….”

“Tapi dia sudah menghina gambar saya Bu…” Wajah MAlik tampak merah menahan amarah.

“Iya… tapi kamu tidak bisa menyakiti orang hanya karena dia mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan hati kamu…”

“Aku kesal sekali Bu guru…. Aku ingin marah…” Malik mengepalkan tangannya dan memukulkan nya ke mejanya.

“Begini…. Kamu ingin marah kan?” Aku berdiri di sampingnya sambil mendekap tanganku sendiri. Malik hanya menggeletukkan gigi dan bibirnya tampak maju beberapa senti.

“ Ibu guru punya cara, bagaimana kalau kamu mau marah…” Kataku tanpa berusaha merayunya.
“Ikut Ibu guru….” Aku berjalan lebih dulu di depannya ke arah mejaku. Aku melirik, ternyata Malik mengikuti aku ke depan kelas tetap sambil bersungut-sungut.

“Anak-anak yang lain tetap bekerja yaa….”

“Nah… Malik… di sini ada tembok. Jika kamu mau marah…. Kamu bisa dorong tembok ini!”

“Wah… tidak bisa begitu bu guru….” Malik mulai protes.

“Mengapa tidak?” tanyaku

“Jika aku marah, aku ingin menonjok orang!, aku ingin memukul, aku ingin mncubit, aku ingin menggigit…. Jadi aku bisa puas” Malik bicara panjang lebar sambil mulutnya berbelok-belok menahan marah.

“ Iya… bu guru paham. Nah… kamu boleh memukul, mencubit, menendang, menggigit, menonjok ataupun melakukan hal lain pada teman yang telah membuatmu marah…. Boleh… kamu boleh melakukannya…”

“Lalu mengapa aku harus mendorong tembok ini?”

“Yaa…. Sebelum kamu melakukan hal-hal tadi, kamu harus dorong dulu tembok ini. Jika kamu berhasil menggeser tembok ini, baru kamu boleh pukul siapapun yang telah membuat kamu marah…Bahkan kamu boleh melakukan itu semua pada ibu guru”

“Benar Bu? Nanti aku boleh melampiaskan marah aku?”

“Benar! Setelah kamu berhasil mendorong tembok ini”

Malik langsung memasang posisi. Dia mendorong tembok itu sekuat tenaganya.
“Mmmmmggghhhrrrrr…..” Suaranya terdengar sangat marah.


Beberapa menit kemudian, dia tampak tersengal-sengal.


“Bu… aku capek… boleh kah aku berhennti dulu?’ tanyanya dengan napas ngos-ngosan.

“Boleh… tapi kamu belum boleh menyakiti temanmu…”

Malik pun duduk dibangkunya. Tangannya diletakkan dipahanya. Dia tampak mengatur napasnya. Matanya dipejamkan. Pundaknya turun naik. Aku tersenyum memperhatikannya dari kejauhan. Aku berpura-pura tidak memperhatikannya.

Tak berapa lama kemudian, Malik kembali medorong tembok di samping meja guru. Dia melakukannya sekuat tenaga. Namun karena tembok itu sangat kuat maka tak sesentipun tembok itu bergeser. Hingga akhirnya dia menyerah.

“Bu… aku mau mencap saja…”

“Boleh… kamu teruskan pekerjaanmu… ingat ya… setiap kali kamu ingin marah…. Dorong tembok itu! Kalau berhasil bergeser… kamu boleh pukul atau gigit siapapun…”

Sejak hari itu. Setiap kali dia ingin marah…. Dimanapun dia berada. Baik di halaman, di kelas, di perpustakaan, di ruang media…Dia selalu berlari ke dalam kelas dan mencoba mendorong tembok tersebut. Kadang sampai berkeringat dan wajahnya merap padam saat mendorong tembok itu.




Sekarang, tidak ada lagi anak yang menangis karena disakiti oleh Malik. Tidak ada lagi orang tua murid yang protes dan minta Malik di keluarkan. Malik benar-benar menjadi anak yang baik. Bahkan orang tuanya sengaja datang ke sekolah dan menanyakan apa yang bisa merubah anaknya menjadi sabar dan bisa Menahan gejolak emosinya. Saat saya ceritakan strategi yang saya terapkan, kedua orang tua Malik geleng-geleng kepala sambil tertawa terbahak-bahak.

“Ah… bu guru… aneh-aneh saja strateginya… ‘