Selasa, 17 Februari 2009
Mahasiswa Super
Padahal kalau mahasiswa itu agak sedikit cerdas (hehehe.... mungkin kurang panjang saja pikirannya!), mereka bisa lihat nilai mereka di internet di website universitas atau mereka bisa sms ke nomor tertentu hingga ga perlu repot-repot mengirim pertanyaan tersebut ke Jakarta atau bahkan mereka bisa tanayakan ke pengelola atau Unit di daerahnya. Namun kadangkala... Unit di daerah juga langsung melemparkan masalah yang ditanyakan ke Jakarta. Selain itu.... pengelola atau mahasiswa di daerah juga masih banyak yang tidak mau membaca panduan atau katalog sehingga mereka tidak tahu bahwa semua itu bisa ditanyakan pada siapa (perwakilan di daerah atau via email) tidak harus langsung ke Pusat.
Seperti siang ini, ada fax dari mahasiswa di dari suatu daerah. Mereka satu pokjar menanyakan kapan nilai mereka keluar dan apakah mereka bisa terjaring yudisium periode ini? Tidak tanggung2 faks yang dikirim berupa TBS (tanda bukti setoran) yang jumlahnya tidak sedikit. semua berkas itu jatuh di mejaku. Ups....
Aku bawa berkas yang seabreg itu ke TU, lalu dengan sandi salah satu staf TU aku membuka program nilai (Program ini cuma orang tertentu yang bisa membukanya, makanya aku pinjam passwords mereka). Aku cek satu persatu nilai mahasiswa yang berkasnya ada di tanganku ini. Aku cek mulai dari memasukan NIM, lalu ke peragaan nilai....lalu lihat IPK....lalu nilai permata kuliah.... trus kapan proses nilai terakhir.... trus daftar yudisium.... jika semua beres... maka nama tersebut berarti bisa ikut wisuda periode sekarang. Jika ada salah satu hal yang belum terpenuhi maka aku harus cari tahu mengapa dan bagaimana solusi yang harus dilakukan oleh mahasiswa tersebut. Hmmm.... kira-kira 2 jam baru selesai semua berkas tersebut aku proses. Selanjutnya aku harus menghubungi atau menelepon salah satu perwakilan dari mahsiswa tersebut atau pengelolanya langsung di daerah. Aku sampaikan hasil pencarianku tadi. Siapa saja yang terjaring yudisium, siapa saja yang harus memperbaiki nilai, siapa saja yang harus mengulang, siapa saja dan apa saja yang harus dilakukan oleh mahasiswa agar mereka bisa ikut wisuda.
Hehehe... di mejaku masih banyak lagi berkas dan pertanyaan yang harus dijawab dan itu berlangsung setiap hari.... (bahkan saat tidak musim nilai kayak sekarang). Kadang ada saja mahasiswa (cuma satu orang) yang telepon. Itupun tetap harus kami layani dengan baik dan harus kami bantu hingga masalahnya bisa selesai dengan baik. Walaupun kadang ada mahasiswa yang belum pernah menghubungi kami (baik di daerah maupun di Pusat) lalu mengatakan bahwa pengurusan sesuatu atau masalah di universitas ku ini susah dan bertele-tele serta tidak akan ditanggapi. Aneh kan? padahal mereka belum pernah coba....
Kadang, aku merasa bahwa mahasiswa itu aneh. Ada yang bertanya, Bu... kok nilai saya E yaa? padahal "rasanya" saya bisa lho mengerjakan UASnya. Atau... Bu... kenapa nilai saya tidak keluar? padahal saya aktif lho saat tutorial? Bu... saya merasa tidak menyontek tapi kok nilai saya E (hukuman), padahal saya justru yang dicontek... gimana Bu? Bu... tolong donk naikin nilai saya supaya IPK saya bisa menjasi 2,s5... supaya saya bisa yudisium....? Seharusnya pertanyaan itu tidak perlu terlontar dari mulut mereka. KArena mereka harusnya sudah tahu... kuliah di sini tuh konsekuensinya seperti apa.
Di Institusiku, ujian akhir memang bersifat massal dan soalnya berupa pilihan berganda yang di lakukan serentak di seluruh Indonesia (bahkan di beberapa KBRI). Ujian ini tidak bisa diulang (tidak ada ujian ulang) jika tidak ikut yaa... berarti tidak lulus dan harus mengulang pada semester berikutnya. Memang (mungkin) pada saat pelaksanaan ujian, pengawasan yang dilakukan tidak atau kurang ketat sehingga memungkinkan mahasiswa saling bekerja sama (menyontek) namun karena sistem pengoreksian nilai adalah komputerisasi yang sudah di set sedemikian rupa maka mahasiswa yang menyontek (atau dicontek) akan mendapatkan nilai E (hukuman) dan itu tidak ada yang bisa amembantu (tidak juga dosen atau bahkan pejabat di institusi ini) solusinya adalah mengulang kembali mata kuliah ini pada semester berikutnya.
Yah... kadang aku kasihan pada mahasiswaku. Mereka bukan fresh graduate, mereka nyambi kerja, mereka ibu rumah tangga, mereka harus cari biaya sendiri untuk kuliahnya dan mereka juga sudah termasuk orang-orang yang "kadaluarsa" alias sudah lama tidak pegang buku... jadi untuk membaca ... wah... itu hal yang paling berat yang harus mereka lakukan. Makanya sebagai dosen (tutor) kadang aku agak memaksa mereka seperti anak kecil agar mereka mau membaca. Kadang pengalaman mengajarku waktu di TK aku terapkan juga pada mahasiswaku yang kebanyakan adalah guru TK juga.... yaah.. demi membantu mereka agar bisa mengerjakan soal UAS dengan lancar. Itupun .... ada saja mahasiswa yang nilainya jeblok dan tidak bisa dibantu sama sekali meskipun sudah ikut tutorial. Kalau sudah begini... apa boleh buat?
Hmm.... Namun sejujurnya aku salut pada seluruh mahasiswaku.... mereka adalah orang-orang yang super yang menjalankan peran yang berbeda dalam satu waktu... sebagai mahasiswa, sebagai guru, sebagai ibu, sebagai anggota IGTK, sebagai dan sebagai.... Adalah perjuangan berat yang mereka butuhkan, yang mereka lakukan agar bisa berhasil dalam pendidikannya. Aku salut!
Just for kindergarten teacher in Indonesia around
Semangat dan terus maju...
Bangsa ini di masa datang
tergantung pada usaha kalian semua
salam....
Senin, 09 Februari 2009
“SMURF” STRATEGI UNTUK MENANGANI ANAK YANG SUKA BICARA "JELEK"
“Bego Luh!”
“Sialan… Brengsek… Anjing Luh…”
Ucapan-ucapan tersebut seringkali kudengar dari mulut seorang muridku yang berwajah imut.
Danu (sebut saja begitu namanya) adalah anak yang lucu. Usianya baru 4 tahun. Wajahnya imut dengan pipi gembul seperti Bakpau. Pipinya selalu bersemu merah seperti udang yang baru diangkat dari rebusan. Sebenarnya dia adalah anak yang menyenangkan dan menggemaskan. Tubuhnya yang gempal dan bullet membuatnya disenangi semua guru dan staf di sekolah. Namun ada satu hal pada dirinya yang kurang disukai. Danu seringkali berkata kasar dan kotor. Saat dia marah atau kecewa maka nama-nama binatang di kebun binatangpun bermuncratan dari mulutnya. Bahkan dia tak peduli siapa lawan bicaranya, kata-kata itu tetap saja akan segera keluar dari terowongan di mulutnya seperti air bah yang tak bisa dibendung.
Aku sebagai gurunya, sering kali terperangah dan terjengah jika mendengar kata-kata dan kalimat “aneh” atau bahkan “beracun” itu keluar dari mulutnya. Bukan hanya kepada teman-temannya Danu melontarkan “racun” tersebut. Iapun kerap memuncratkan kata-kata tersebut kepada mamanya bahkan kepadaku sebagai gurunya atau bahkan kepada orang tua lain yang kebetulan menyinggung perasaannya.
Aku mencoba mencari tahu mengapa Danu sering kali bersikap dan berkata-kata kasar seperti itu. Aku bertanya pada mamanya yang selalu mengantarnya ke sekolah. Informasi yang kudapat adalah bahwa Danu suka sekali menonton film kartun di televisi. Film yang disukai adalah Shincan dan Ranger. Danu juga suka sekali bermain dengan teman-temannya di luar kompleks perumahan. Hampir setiap sore dia bermain bersama anak-anak “kampung” (mamanya menyebut demikian untuk anak-anak yang tinggal di luar di kompleks tersebut). Menurutnya teman main Danu tersebut hampir semua adalah anak-anak yang berusia di atas Danu dan sudah duduk di bangku SD maupun SMP. Danu juga dekat sekali dengan pembantunya yang lumayan cerewet dan cenderung banyak bicara. Mama Danu mengatakan, bahwa dirinya serta papanya Danu sering menegur Danu bahkan tidak jarang memarahi atau bahkan memukul mulut Danu saat anak tersebut mengeluarkan kata-kata yang kurang baik tersebut. Namun hal itu belum berhasil merubahnya bahkan perkataan Danu semakin hari semakin kasar dan kotor. Kata-kata (mungkin lebih pantas jika disebut umpatan) yang paling sering diucapkan adalah (Maaf…!) “Anjing!, Babi!, Monyet!, Bangsat!, Sialan!, pelacur!, Jelek!, Tai!, Tai Kucing!, Mampus!” (Woooow banyak banget yaaa?).
Setelah mendapatkan data-data tersebut, aku kemudian berembug dengan guru yang membantuku di kelas. Oh… ya, di kelas (ruangan kelas) ini aku mengajar berdua untuk 2 kelompok. Aku wali kelas kelompok B2 dan Ibu Uti, wali kelas kelompok B1. Kami masuk pagi dan siang secara bergantian. Pergantian waktu ini dilakukan sebulan sekali. Saat kelompok B2 belajar maka Ibu Uti bertindak sebagai guru bantu demikian pula sebaliknya.
Kembali… ke Lap top…..
Aku dan Bu Uti mencoba menelaah dan menganailis data yang sudah kami peroleh dari mama Danu. Selain itu kami juga mencari informasi pada pihak-pihak lain seperti pembantu yang sering menemani Danu di rumah, anak-anak yang sering bermain bersama Danu dan aku juga mencoba menonton film (kesukaan Danu) Shincan dan Ranger yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi.
Hasil yang kami peroleh adalah bahwa semua hal tersebut sangat mendukung dan menyuport Danu untuk berkata-kata kasar. Teman-temannya di sekitar rumah memang sering mengeluarkan umpatan dengan kata-kata kasar dan kotor saat bermain. Meskipun mereka melakukannya sambil bercanda dan tertawa-tawa. Tokoh Shincan juga tak jarang mengucapkan kata-kata yang kurang baik dan kurang enak di dengar dan tokoh yang digemari anak-anak ini sering menunjukkan sikap melawan atau berbuat tidak sopan pada orang tuanya (terutama ibunya). Demikian pula dengan film Ranger yang sering mengeluarkan ungkapan yang tidak layak didengar anak-anak (padahal film ini kan untuk konsumsi anak-anak ya?). Sedangkan pembantu yang dekat dengan Danu sering kali “latah” dan mengelurkan kata-kata yang sama jorok dan kasarnya dengan anak-anak “kampung” yang tinggal di sekitar kompleks tersebut. Data yang tak kalah mengejutkan adalah bahwa ternyata ayah Danu, saat marah juga akan sangat meledak-ledak dan juga akan mengeluarkan kata-kata umpatan yang “WOW!”
Semalaman aku ngubek-ngubek buku-buku, teori dan berbagai diktat serta makalah hasil seminar yang aku miliki. Setelah berkutat dengan buku-buku, diktat dan kertas-kertas tersebut dan setelah aku berpikir dan merenung cukup lama. Aku pindah ke kamar anakku. Aku coba-coba mencari inspirasi dari buku-buku milik anakku yang sekarang sudah mulai ABG (Anak Baru Gede). Tiba-tiba, aku menemukan buku cerita anak (komik) diantara tumpukan buku-buku usang. Hmmm... komik ini paling kusuka saat aku masih anak-anak (bahkan sampai aku remaja dan masih sampai sekarang). Aku juga ingat, anak-anakku suka banget dengan komik ini. Yaa… buku itu adalah komik SMURF. Dalam komik itu, para smurf mengganti kata-kata tertentu dengan kata "smurf" dan kita para pembacanya harus berpikir untuk menerjemahkannya. Kita harus mengartikan kalimat yang diucapkan dan nge pas-pas in sendiri, sesuai dengan imajinasi kita sendiri. Hmmm.... akupun terinspirasi dengan komik tersebut dan akan mencobanya pada Danu dan anak-anak di kelasku. Akupun menyampaikan gagasanku ini pada Ibu Uti.
Pada saat aku sampaikan gagasanku itu, Ibu Uti meragukannya. Menurutnya Danu sudah parah dan tidak akan bisa diubah lagi. Namun aku bersikukuh untuk mencoba menerapkannya. Paling tidak, seandainya tidak berhasil…. Aku pernah mencobanya.
“Anak-anak, hari ini Ibu akan menyampaikan peraturan baru di kelas kita” Pandangan mataku menyapu seluruh mata anak-anak di kelasku satu persatu.
“Kalo makan harus duduk tenang ya Bu”
“Kalau nulis harus sampai selesai….”
“Ngga boleh lari-lari dan kejar-kejaran di dalam kelas ya Bu”
“Harus antri seperti bebek kan?…”
Anak-anak langsung mengemukakan aturan-aturan yang memang sudah kami terapkan selama ini.
“Bukan, sayang….. Kali ini peraturannya baru, yaitu … setiap kali kita semua akan marah dan akan mengeluarkan kata-kata yang jelek, kita harus menahannya sampai di leher saja. Lalu kita harus mengeluarkannya menjadi kata-kata yang bagus. Nah kira-kira kata apa yang akan kita keluarkan kalau kita lagi kesal?
“Merdeka! “
“Halo…”
“Ampun…”
Sayang!’
“Hore!”
“Amin!”
“Bu guru!”
Aku menuliskan kata-kata yang dikemukakan anak-anak di papan tulis. Aku menuliskannya setinggi anak-anak. (Hmmm… ternyata anak-anak didikku pandai-pandai semua…. Mereka menyampaikan idenya dengan baik).
“Nah…. Anak-anak, sekarang kita harus pilih kata-kata yang mana yang akan kita gunakan dan kita keluarkan kalau kita sedang kesal dan ingin mengeluarkan kata-kata yang jelek dan tidak enak di dengar?” kataku dengan ekspresi meminta pendapat.
“Kan tidak mungkin kita menggunakan semuanya? Nanti malah bingung..?” aku melanjutkan.
“Bu, bagaimana jika kita lakukan pemilihan, setiap anak membuat garis tegak di sebelah kata-kata yang dipapan tulis?” Ibu Uti menyampaikan sarannya.
“Bagaimana anak-anak?” tanyaku meminta pendapat anak-anak.
Ternyata semua anak setuju. Maka pemilihan pun dilakukan. Setiap anak maju satu persatu ke papan tulis dan menuliskan garis tegak di depan kata-kata yang dipilihnya. Bagi anak yang belum bisa membaca aku dan Bu Uti membacakan kata-kata tersebut hingga dia bisa menentukan pilihannya dengan tepat. Setelah semua memberikan pilihannya, termasuk aku dan Ibu Uti, maka hasilnya dihitung bersama-sama. Kemudian disepakati kata yang akan digunakan adalah “Hore!” dan “merdeka!” Hari ini disepakati juga bahwa individu yang melanggar akan mendapat sanksi yaitu akan di teriaki dengan teriakan “Huuuu!” lalu disuruh melompat dengan dua kaki sebanyak lima kali.
"Sepakat?"
"Sepakat!"
"Oh... ya, kata-kata jelek yang tidak boleh diucapkan apa saja yaa....?" Tanyaku kembali meminta pendapat anak-anak.
"Ngatain Anjing!...."
"Ngatain monyet!"
"Bilang bangsat sama sialan!"
"Ngatain bu guru jelek"
"Ok...ok... pokoknya semua kata dan kalimat yang kurang baik tidak boleh diucapkan di sekolah maupun di rumah atau dimana saja. Setiap kalian mau berkata-kata... kalian harus berpikir dahulu.... kata itu bagus atau tidak... kalau jelek harus diganti dengan kata "hore atau merdeka" Aku menjelaskan panjang lebar.
"Bagaimana, anak-anak? sepakat kan?"
"Sepakat!" anak-anak berteriak secara serempak.
Keesokan harinya mulailah peraturan baru tersebut.
“ Bu guru.aku mau…E….hore!” Dimas memulai dengan agak malu-malu.
“ Boleh sayang, kamu boleh hore di kamar mandi ya…?” aku menanggapinya sambil tersenyum.
“Dasar sialan!” tiba-tiba Danu berteriak karena kertas yang sedang diwarnainya sobek.
“Huuuuu….” Seluruh murid meneriaki Danu.
Danu tampak bingung dan hampir marah. Dia menarik napas panjang dan bersiap-siap memuncratkan kata-kata dan kalimat yang biasa dia keluarkan….
“Danu… sesuai kesepakatan…. Kamu boleh berteriak dan mengeluarkan kata-kata “hore” atau “merdeka” jika kamu ingin mengumpat dan mengeluarkan kata-kata yang biasa kamu ucapkan”
“Uuuhhh…. Bu guru… hore” teriak Danu
“Aku “merdeka” sama bu guru “ Danu melanjutkan kembali dengan wajah merah merona.
Pada awalnya memang anak-anak masih kesulitan dan masih suka lupa. Terutama Danu. Satu minggu pertama dia hampir setiap saat disoraki teman-temannya dan melompat-lompat dengan dua kaki di tempat sebanyak 5 kali. Namun setelah beberapa kali disoraki, dia tidak lagi emosi, dia hanya tersenyum setelah disoraki, sambil menutup mulutnya.
Setelah satu bulan menerapkan aturan ini, tampak banyak perubahan yang terjadi pada anak-anak didikku. Mereka bisa nyambung dengan kalimat yang diucapkan temannya meskipun diganti dengan kata-kata merdeka atau hore. Selain itu, anak-anak juga tampak menjadi lebih sabar dan tidak mudah marah. Mereka juga lebih bisa mengetahui dan mengakui kesalahannya dan dapat segera memperbaikinya.
Perubahan yang sangat besar terjadi pada Danu. Dia tidak lagi senang mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar dan jorok. Saat hendak marah, dia akan terdiam dahulu sesaat sebelum akhirnya mengeluarkan kata “hore” dan/atau “merdeka”. Danu menjadi lebih sabar dan wajahnya semakin sumringah serta lucu. Dia selalu tersenyum dan semakin menggemaskan.
Menurut Mamanya, di rumah, Danu mengajarkan cara yang sama pada teman-teman mainnya. Meskipun teman-temannya lebih besar dan lebih tua usianya dibanding Danu. Papanya pun melakukan hal yang sama dan manyatakan bahwa cara ini sangat efektif diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dia menjadi lebih bisa menahan emosi dan berpikir lebih panjang sebelum mengungkapkan isi hatinya. Hal ini karena Danu selalu protes jika papanya mengeluarkan kata-kata yang kurang baik.
Hmmm….. aku senang. Meskipun strategi yang aku terapkan terkesan main-main dan tidak serius namun bisa menghasilkan sesuatu yang aku anggap “cukup bermakna”. Strategi ini bisa digunakan untuk menangani anak-anak yang “suka” atau “terbiasa” bicara kasar dan/atau kotor. Memang hal ini bersifat kasuistik tetapi tidak ada salahnya strategi atau cara ini dicoba untuk menangani kasus yang sama. Aku hanya ingin berbagi dan menyampaikan pengalamanku sebagai guru. Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman guru dimanapun Anda mengajar.
Akhir kata saya ingin menyampaikan bahwa “tidak ada satu metode/strategi/cara yang terbaik untuk satu pembelajaran tertentu dan tidak ada satu pembelajarn yang paling baik hanya dengan menggunakan satu strategi/metode/cara saja. Semuanya sebaiknya dilakukan secara sistematik, berkesinambungan dan terpadu hingga hasil yang diperoleh merupakan hasil yang paling optimal”
Salam,
“Anak kita adalah masa depan dunia. Perilaku mereka adalah cermin pendidikan kita”
Rabu, 28 Januari 2009
PENGENDALIAN EMOSI PADA ANAK USIA DINI
“Bu guru…. Diah nangis tuh!” Andin berteriak sambil menunjuk ke Diah yang sedang menangis sesenggukan.
“Kenapa?” aku bertanya sambil berlari menghampiri Andin yang duduk di meja paling belakang.
Aku merasa bersalah karena sebagai guru aku tidak tahu kejadian di salah satu sudut kelasku.
“Kenapa sayang”
“Malik yang pukul dia Bu…” Doni menunjuk pada Malik yang tampak berdiri mematung di samping bangkunya.
Tiba-tiba, Malik berlari ke arah Doni dan langsung memukul Doni dengan kepalannya. Doni menjerit dan berlari ke arahku sambil memegangi pipinya. Aku memeluknya dan mengusap-usap pipinya yang tampak merah.
Setelah kedua anak ini reda tangisnya, aku berdiri dan mendekati Malik yang duduk di bangkunya sambil bertopang dagu dengan wajah cemberut.
Malik adalah anak yang cerdas. Kemampuan logika matematikanya sangat bagus untuk anak seusianya. Demikian juga dengan kemampuan berbahasanya. Bahasa ekspresif maupun represifnya sangat baik. Saat berbicara, Malik menggunakan Bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD (ejaan yang disempurnakan). Tutur katanya selalu tertata dengan sangat baik. Dia juga anak yang sangat sopan dan sering berempati pada teman. Namun ada satu hal yang membuatnya kurang disukai teman-teman sekelasnya di kelompok B ini. Malik sangat mudah marah. Dia juga ringan tangan dalam arti mudah sekali memukul atau menyakiti teman-temannya. Dia cepat sekali meledak. Hanya tersenggol sedikit saja dia akan langsung melayangkan tinjunya. HAnya karena masalah yang sangat sepele dia bisa marah. Dia tak peduli siapapun yang membuatnya kesal pasti akan mendapat balasan tinju atau tamparan darinya. Satu hal lagi, Malik juga senang menggigit. Semua hal itu akan dilakukannya apabila dia merasa ada yang mengganggunya. Hampir setiap hari ada saja anak yang menangis karena ulahnya. Ternyata hal ini tidak hanya terjadi pada anak-anak di kelasku saja. Anak-anak di kelas yang lain juga sudah banyak yang menjadi korbannya.
Sebagai ibu gurunya aku lumayan bingung mengatasi perilaku Malik ini. Banyak hal yang sudah akau lakukan agar perilaku buruk ini berkurang. Hal-hal yang kulakukan misalnya memarahinya, merayunya, mendiamkannya, meminta anak yang disakiti membalasnya bahkan aku pernah menghukumnya dengan tidak mengijinkannya bermain saat istirahat. Aku juga mencari informasi pada keluarga dan tetangganya. Aku minta bantuan pada orang-orang di rumahnya. Aku meminta bantuan dari guru-guru dan staf di sekolah. Namun semua upaya tersebut belum membuahkan hasil.
“Hmmm… apa lagi yang aku harus lakukan?”
“Bagaimana mengatasi perilaku Malik ini?”
“Uuuhhh…. ????!!!!!” Aku hampir putus asa.
“Selamat pagi Bu guru…. “
“Selamat pagi, Malik…”
“Wah…. Ibu guru hari ini tampak cantik sekali…”
“Terima kasih Malik… hari ini kamu juga tampak gagah dan hebat”
“Ibu guru, dapat salam dari ayah saya….”
“Oh… ya, terima kasih yaa….. nanti Ibu guru akan telepon ayahmu dan mengucapkan terima kasih untuk salamnya…”
“Iya… Bu, Ayah Malik pasti senang sekali menerima telepon dari Bu guru…”
Ya… itu percakapanku dengan Malik tadi pagi. Dia tampak sangat santun dan tidak menunjukkan bahwa dia termasuk salah satu “trouble maker” yang ditakuti teman-temannya.
Saat ini anak-anak sedang memcap dengan daun. Semua anak tampak sangat serius dan tampak gembira. Tiba-tiba…
“Wah Malik kok gambar daunnya ngga nyata?” Andi bertanya pada Malik
Aku menoleh ke arah Malik dan Andi, dan…
“Malik!... tolong turunkan tanganmu!” perintahku dengan kata-kata yang tegas. “Kamu tidak boleh memukul sembarang orang….”
“Tapi dia sudah menghina gambar saya Bu…” Wajah MAlik tampak merah menahan amarah.
“Iya… tapi kamu tidak bisa menyakiti orang hanya karena dia mengatakan sesuatu yang tidak menyenangkan hati kamu…”
“Aku kesal sekali Bu guru…. Aku ingin marah…” Malik mengepalkan tangannya dan memukulkan nya ke mejanya.
“Begini…. Kamu ingin marah kan?” Aku berdiri di sampingnya sambil mendekap tanganku sendiri. Malik hanya menggeletukkan gigi dan bibirnya tampak maju beberapa senti.
“ Ibu guru punya cara, bagaimana kalau kamu mau marah…” Kataku tanpa berusaha merayunya.
“Ikut Ibu guru….” Aku berjalan lebih dulu di depannya ke arah mejaku. Aku melirik, ternyata Malik mengikuti aku ke depan kelas tetap sambil bersungut-sungut.
“Anak-anak yang lain tetap bekerja yaa….”
“Nah… Malik… di sini ada tembok. Jika kamu mau marah…. Kamu bisa dorong tembok ini!”
“Wah… tidak bisa begitu bu guru….” Malik mulai protes.
“Mengapa tidak?” tanyaku
“Jika aku marah, aku ingin menonjok orang!, aku ingin memukul, aku ingin mncubit, aku ingin menggigit…. Jadi aku bisa puas” Malik bicara panjang lebar sambil mulutnya berbelok-belok menahan marah.
“ Iya… bu guru paham. Nah… kamu boleh memukul, mencubit, menendang, menggigit, menonjok ataupun melakukan hal lain pada teman yang telah membuatmu marah…. Boleh… kamu boleh melakukannya…”
“Lalu mengapa aku harus mendorong tembok ini?”
“Yaa…. Sebelum kamu melakukan hal-hal tadi, kamu harus dorong dulu tembok ini. Jika kamu berhasil menggeser tembok ini, baru kamu boleh pukul siapapun yang telah membuat kamu marah…Bahkan kamu boleh melakukan itu semua pada ibu guru”
“Benar Bu? Nanti aku boleh melampiaskan marah aku?”
“Benar! Setelah kamu berhasil mendorong tembok ini”
Malik langsung memasang posisi. Dia mendorong tembok itu sekuat tenaganya.
“Mmmmmggghhhrrrrr…..” Suaranya terdengar sangat marah.
Beberapa menit kemudian, dia tampak tersengal-sengal.
“Bu… aku capek… boleh kah aku berhennti dulu?’ tanyanya dengan napas ngos-ngosan.
“Boleh… tapi kamu belum boleh menyakiti temanmu…”
Malik pun duduk dibangkunya. Tangannya diletakkan dipahanya. Dia tampak mengatur napasnya. Matanya dipejamkan. Pundaknya turun naik. Aku tersenyum memperhatikannya dari kejauhan. Aku berpura-pura tidak memperhatikannya.
Tak berapa lama kemudian, Malik kembali medorong tembok di samping meja guru. Dia melakukannya sekuat tenaga. Namun karena tembok itu sangat kuat maka tak sesentipun tembok itu bergeser. Hingga akhirnya dia menyerah.
“Bu… aku mau mencap saja…”
“Boleh… kamu teruskan pekerjaanmu… ingat ya… setiap kali kamu ingin marah…. Dorong tembok itu! Kalau berhasil bergeser… kamu boleh pukul atau gigit siapapun…”
Sejak hari itu. Setiap kali dia ingin marah…. Dimanapun dia berada. Baik di halaman, di kelas, di perpustakaan, di ruang media…Dia selalu berlari ke dalam kelas dan mencoba mendorong tembok tersebut. Kadang sampai berkeringat dan wajahnya merap padam saat mendorong tembok itu.
Sekarang, tidak ada lagi anak yang menangis karena disakiti oleh Malik. Tidak ada lagi orang tua murid yang protes dan minta Malik di keluarkan. Malik benar-benar menjadi anak yang baik. Bahkan orang tuanya sengaja datang ke sekolah dan menanyakan apa yang bisa merubah anaknya menjadi sabar dan bisa Menahan gejolak emosinya. Saat saya ceritakan strategi yang saya terapkan, kedua orang tua Malik geleng-geleng kepala sambil tertawa terbahak-bahak.
“Ah… bu guru… aneh-aneh saja strateginya… ‘
Kamis, 15 Januari 2009
KREATIVITAS ANAK PENURUT
Hal itu setidaknya menunjukan bahwa orangtua lebih senang jika anak mereka adalah anak yang tenang, diam, menuruti aturan, tidak melakukan hal-hal yang merusak atau mengotori segala sesuatu yang ada. Dan untuk mendapatkan anak yang demikian orangtua menerapkan berbagai macam aturan dan larangan di rumah dan tidak jarang disampaikan dengan kata “ jangan… “ atau berupa larangan seperti “ tidak boleh… “ dan “ Kamu harus … “. Orangtua akan merasa sangat bangga jika berhasil menjadikan anak mereka sebagai anak yang “ penurut “, tidak pernah membantah, melawan ataupun menentang. Anak menjadi diam dan tenang seperti “robot “ yang akan bergerak jika diperintah.
Namun apakah hal ini baik untuk anak ?, Kadang kala hal-hal yang baik bagi orangtua belum tentu baik pula bagi anak atau sesuai pula untuk anak. Apakah aturan-aturan dan larangan-larangan yang diterapkan orangtua akan mendukung dan mendorong perkembangan kreativitas anak ? Atau bahkan akan menghambat kreativitas anak ? karena kreativitas akan berkembang dengan baik jika dilandasi kebebasan dalam berekspresi dan kebebasan untuk menyalurkan aspirasinya. Apakah anak yang penurut kemudian tidak memiliki kreativitas atau kreativitasnya tidak berkembang ? Oleh karena itu dalam artikel ini penulis mencoba membahas tentang kreativitas anak penurut. Karena kedua hal tersebut yaitu kreativitas dan penurut tampaknya merupakan dua hal yang bertolak belakang. Apakah kreativitas yang dimiliki anak penurut dapat berkembang dengan baik ? dan apakah anak penurut masih memiliki kreativitas ?
Contoh Kasus
Tiara ( 12 tahun ) adalah seorang anak yang dibesarkan di lingkungan polisi, ayah, kakek dan salah satu pamannya adalah anggota polisi dan ibunya seorang guru. Mereka tinggal di kompleks polisi. Tiara dididik oleh ayahnya dengan disiplin yang tinggi, makan, tidur, main harus teratur. Tiara tumbuh menjadi anak yang pendiam, patuh dan sangat menurut pada orangtuanya terutama ayahnya. Ketika usia Taman Kanak-kanak, gurunya mengatakan bahwa Tiara adalah anak yang sangat baik, tidak pernah mengganggu temannya, selalu duduk dengan manis, tidak suka berlari-lari dan jika mengerjakan tugas pasti hasilnya akan hampir sama persis dengan contoh yang diberikan oleh gurunya dan dia selalu mendapat nilai yang bagus. Namun untuk kegiatan menggambar bebas Tiara tidak menghasilkan apa-apa. dia selalu mengatakan “ tidak bisa “ karena tidak ada contohnya. Demikian pula jika bermain bebas, maka Tiara hanya akan duduk diam menyaksikan teman-temannya bermain. Ibu gurunya mengatakan bahwa Tiara tidak kreatif . Hal ini berlangsung terus hingga Tiara duduk di bangku Sekolah Dasar.
Ketika duduk di SD kelas IV, Ibunya menemukan beberapa tulisan tangan Tiara pada beberapa buku pelajarannya di halaman terakhir. Tulisan itu berupa puisi maupun cerita sehari-hari yang dialami oleh Tiara sendiri. Kemudian tulisan ini dikumpulkan dan dijadikan buku kecil. Salah satu tulisan itu dikirimkan ke majalah dan ternyata dimuat. Kebanyakan puisinya berisi kekagumannya pada ibunya dan keluh kesah serta keinginannya untuk bebas seperti alam.
Saat ini Tiara sudah di SMP, tulisan-tulisannya sering dimuat di madding (majalah dinding ) sekolah. Tiara tetap merupakan anak pendiam yang cenderung pasif namun dia terus menulis. Namun dia tidak mau jika harus tampil sendiri di depan orang banyak, makanya dia tidak mau jika tulisannya diikut sertakan dalam lomba.
Kisah Tiara ini menunjukan bahwa anak yang penurut , patuh dan taat pada peraturan juga tetap memiliki kreativitas dan kreativitasnya dapat berkembang dengan baik jika lingkungan memberi dukungan dan dorongan untuk berkembangnya kreativitas. Dan disiplin tetap diperlukan dalam mengembangkan kreativitas agar kebebasan yang diperlukan untuk berkreasi memiliki batasan – batasan sehingga produk kreatif yang dihasilkan tidak merugikan orang lain dan dapat berguna bagi orang lain.
Pengertian Kreativitas
Pengertian kreativitas menurut Mayesky adalah cara berpikir dan bertindak atau membuat sesuatu yang asli dari dirinya dan mempunyai nilai bagi dirinya atau orang lain.Banyak yang beranggapan bahwa orang yang kreatif adalah orang yang dapat menghasilkan suatu produk benda padahal selain itu kreativitas dapat juga sebagai suatu proses pemikiran atau gagasan yang berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain.
Anak kecil mempunyai kreativitas yang alami dan spontan sikap mereka dalam berbagai hal mengerjakan sesuatu yang tidak dibuat-buat. Anak akan menjadi kreatif ketika mereka harus memecahkan masalah, atau saat mereka perlu menyesuaikan diri dalam lingkungan yang baru.
Sedangkan menurut Conny Semiawan, Munandar dan SC. U Munandar, pengertian kreativitas sebagai kemampuan untuk mencipta suatu produk baru. Ciptaan itu tidak perlu seluruh produknya harus baru, mungkin saja gabungan atau kombinasinya, sedang unsur-unsurnya sudah ada sebelumnya.Pada saat ini kita sering melihat orang menciptakan sesuatu kerajinan yang terbuat dari barang-barang bekas menjadi benda yang cantik dan unik.
Pengertian kreativitas menurut Salim yaitu, sesuatu yang dapat disebut kreatif bila ia memenuhi beberapa kriteria produk kreatif sebagai berikut : baru, berbeda dari yang telah ada dalam arti lebih baik dan berguna bagi orang banyak. Sesuatu itu tidak selalu berupa benda, melainkan dapat pula berupa sistem, prosedur atau cara untuk melakukan sesuatu.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kreativitas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk berpikir maupun menciptakan sesuatu karya baru. Karya tersebut dapat baru secara keseluruhan maupun dengan adanya pembaharuan pada sesuatu yang telah ada tercipta hal yang baru.
Disiplin
Disiplin secara luas dapat diartikan sebagai semacam pengaruh yang dirancang untuk membantu anak agar mampu menghadapi tuntutan dari lingkungannya. Disiplin tumbuh dari kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara kecenderungan atau keinginan individu untuk berbuat sesuatu yang dapat dai ingin ia peroleh dari orang lain, dengan pembatasan peraturan yang diperlukan terhadap dirinya oleh lingkungannya.
Seorang anak membutuhkan perasaan aman untuk tumbuh kembang dengan caranya sendiri. Rasa aman ini didapatnya mulai dari lingkungan rumah sampai ke sekolah dan masyarakat. Namun untuk mendapatkan rasa aman yang dia inginkan bukan berarti bahwa kebebasannya tidak terbatas. Pada hakekatnya seorang anak da setiap orang membutuhkan disiplin.
Setiap orangtua maupun guru tentu ingin mempunyai anak atau murid yang sopan, santun dan memiliki tata krama dalam pergaulan seperti : ramah, manis budi, supel, baik hati, mengerti baik dan buruk, benar dan salah dan mentaati peraturan dan tatatertib yang ada di lingkungannya.
Kendati tak seorangpun tahu cara mendidik anak agar menghormati hukum dan orang lain yang terbaik, yang jelas kita harus mengajarkan prosesnya sejak dini. Cara yang efektif adalah dengan membiasakan anak melakukan hal yang benar (Hal yang boleh dilakukan ) dan tidak melakukan hal yang salah (hal yang tidak boleh dilakukan ) dan menghadapkannya pada konsekuensi dari tindakannya. Konsekuensi ini tidak harus berupa hukuman agar anak jera namun contoh sikap dan perilaku orangtua akan lebih efektif dalam menanamkan disiplin. Misalnya : mengajak anak merapikan kembali mainannya setelah selesai bermain dan untuk anak usia dini, orangtua harus rajin mengingatkan dan memberi contoh apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.
Para ahli ilmu perkembangan anak mengingatkan, kata disiplin berasal dari bahasa latin yang artinya belajar dan merupakan suatu konsep yang positif. Disiplin meliputi campuran dari penalaran, ketegasan dan kesayangan. Ada bebarapa cara menanamkan disiplin pada anak – anak (dirangkum dari berbagai artikel ), diantaranya adalah sebagai berikut.
- Mulai secara perlahan sesuai dengan tingkatan usia anak.
- Membantu anak agar mau bekerja sama dalam mentaati peraturan dengan cara .mengusahakan lingkungan yang aman.
- Orangtua harus konsisten dengan aturan yang telah dibuat bersama anak.
- Mulai dengan aturan yang sederhana da mudah dimengerti anak.
- Komunikasikan aturan-aturan yang diterapkan pada anak secara jelas dan tidak perlu dengan suara keras.
- Memberi contoh perilaku yang boleh dan yang tidak boleh secara jelas.
- Tidak mencela atau mencemooh dan mempermalukan anak di depan umum.
- Menanamkan sikap peduli dan empati pada orang lain .
Referensi
Marry Mayesky, Creative Activities for Young Children, (New York : Delmar Publisher, 1990 )
Conny Semiawan, A.S. Munandar, SC.U. Munandar, Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah, Petunjuk bagi Guru dan Orangtua, ( Jakarta : Gramedia, 1987 )
Evita Singgih Salim, Kreativitas dan Sikap Kreatif dari Siswa Berbakat Akademik, Makalah yang disampaikan dalam Simposium Program Akselerasi dalam Pendidikan bagi Siswa Berbakat Akademik, Jakarta 29-30 Maret 2000.
Sri T Purnomo