Kamis, 15 Oktober 2009

MEMBISIKKAN PESAN PERMAINAN SEDERHANA BERGUNA LUAR BIASA

(Modifikasi Permainan Tradisional Sebagai Sarana Pengembangan Kemampuan Anak)
Artikel ini telah dimuat pada :JENDELA (Jurnal Pendidikan dan Psikologi Indonesia)
Edisi 02, Mei 2009 MEDIA & ANAK-ANAK

PENDAHULUAN
Dunia anak adalah dunia bermain dan seringkali dikatakan bahwa bermain adalah “pekerjaan anak-anak”. Bermain memang merupakan alat belajar yang penting, karena bemain bagi anak tak ubahnya dengan belajar. Kedua hal ini yaitu belajar dan bermain sulit dibedakan karena anak belajar mengenal diri dan lingkungannya melalui bermain dengan alat maupun tanpa alat permainan. Selain itu, melalui bermain anak mampu membangun dunianya sendiri dengan imajinasinya dan mampu memahami kehidupan nyata melalui pengalaman yang diperolehnya ketika bermain.
Bermain merupakan salah satu sarana untuk tumbuh kembang dalam lingkungan budaya dan persiapan anak untuk belajar norma-norma dalam masyarakat.
Bermain juga merupakan kegiatan yang dilakukan secara berulang -ulang, biasanya dilakukan tanpa tujuan atau sasaran tertentu yang harus dicapai. Bermain dilakukan hanya untuk kesenangan saja. Jadi kegiatan apapun yang dilakukan anak demi untuk mendapat kesenangan dapat dikatakan sebagai bermain, baik dengan alat maupun tanpa alat. Alat yang digunakan untuk bermain disebut mainan. Selama ini kita sering menganggap bahwa yang dsebut mainan hanyalah boneka, mobil-mobilan, rumah-rumahan. Padahal yang bisa digolongkan sebagai mainan begitu luas. ” Segala benda yang dipakai untuk bermain dan menimbulkan rasa senang dalam diri anak, bisa disebut sebagai mainan “. Jadi apapun macamnya ( meja, kursi, panci, daun - daunan, kaleng, alat tulis, tanah, pasir, air, pelepah dan kayu ) dapat disebut sebagai mainan.
Pada saat ini, dimana teknologi canggih sudah merambah hampir seluruh wilayah tanah air seperti televisi, komputer dan internet mulai masuk ke rumah-rumah ditambah lagi dengan semakin menyempitnya lahan untuk arena bermain anak, maka kegiatan bermain anak– anakpun semakin berkurang. Anak lebih suka duduk diam di depan televisi untuk menonton ataupun bermain game atau permainan di dalam rumah lainnya yang bersifat individu. Hal ini banyak terjadi di daerah perkotaan. Sekarang ini jarang sekali kita melihat anak–anak di daerah perkotaan yang bermain–main bersama dengan teman–temannya, berlari–lari ataupun bersenang–senang berkelompok. Mereka umumnya sudah terlalu sibuk dengan kegiatannya masing–masing seperti sekolah, kursus piano, musik, les bahasa Inggris, les matematika, tennis, berenang ataupun kegiatan lainnya yang membuat anak tidak sempat menikmati indahnya dunia anak–anak melalui bermain dengan teman sebayanya.
Indonesia sebagai negara yang terdiri dari ribuan pulau, budaya dan berbagai suku bangsa yang berbeda antara satu dengan lainnya memiliki banyak sekali permainan tradisional atau permainan rakyat. Kekayaan ini dimungkinkan karena setiap daerah biasanya memiliki ciri dan bentuk permainannya sendiri yang berbeda dengan daerah lainnya. Walaupun mungkin saja ada beberapa permainan tradisional suatu daerah mempunyai kemiripan dengan permainan daerah yang lainnya. Misalnya Sonda (Betawi) dengan Engklek (Jawa Tengah), Ultop (Sumatra Utara) dan Dor Pletok (Jawa Tengah).
Permainan tradisional/rakyat merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia, maka tugas kitalah untuk melestarikannya. Mengingat saat ini berbagai macam permainan tradisional tampaknya banyak yang mulai tergusur dengan hadirnya permainan– permainan impor yang lebih modern serta semakin menyempitnya lahan untuk bermain ditambah lagi dengan enggannya orangtua jika melihat anaknya bermain dengan sesuatu yang kotor dan tampak ‘jorok’
Pada artikel ini, penulis mencoba menyajikan sebuah permainan tradisional yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menghasilkan manfaat yang lebih banyak bagi anak-anak yang memainkannya, yaitu Permainan Membisikkan Pesan. Permainan ini sering dimainkan oleh anak–anak dari berbagai tingkatan usia dan tidak membutuhkan peralatan ataupun arena permainan yang luas. .Oleh karena itu, selain untuk melestarikannya, Hasil modifikasi permainan ini juga dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran di sekolah (Taman Kanak–kanak maupun Sekolah Dasar) yang dapat membantu anak mengembangkan aspek–aspek perkembangannya secara menyeluruh dan terpadu secara optimal.
Sebelum membahas tentang permainan tersebut, mari kita tinjau sejenak beberapa teori tentang bermain.
Menurut Rebecca Isbell (Isbell,1995), “Play is children’s work and children want to play. In play, children develop problem solving skills by trying different ways of doing things and determining the best approach. In play children use language to carryout their activities, expanding and refining their language as they talk with and listen to the other children. When playing, they learn about other people as they try out different roles and adjust to working together. Play nurtures children’s development in all areas: Intellectual, social/emotional and physical “
Bermain bagi anak adalah apa yang mereka lakukan sepanjang hari, bermain adalah kehidupan dan kehidupan adalah bermain. Anak–anak tidak membedakan antara bermain, belajar, dan bekerja. Anak-anak adalah pemain alami, mereka menikmati bermain dan dapat berkonsentrasi dalam waktu yang lama untuk sebuah keterampilan. Bermain merupakan motivasi intrinsik bagi anak dan tidak ada seorangpun yang dapat mengatakan apa yang dilakukan dan bagaimana melakukannya. Dalam bermain anak mengembangkan mentalnya dan menumbuhkan kemampuannya untuk memecahkan masalah dalam hidupnya (perkembangan sosial) dan mengembangkan motoriknya. Tidak ada satu definisi yang dapat menjelaskan arti bermain yang sebenarnya (Mayesky, 1990).
Permainan anak-anak merupakan wadah dasar dan indikator perkembangan mental. Bermain memungkinkan anak-anak untuk memajukan perkembangannya seperti sensorimotor, intelegensi pada bayi , mulai dari operasional sampai operasional konkrit pada anak pra sekolah juga mengembangkan kognitif, fisik, dan perkembangan sosial emosional (Maxim , 1992).
Menurut beberapa tokoh lainnya , arti bermain adalah: aktivitas bermain adalah kegiatan spontan yang tidak memiliki tujuan duniawi yang riil; menurut Plato, Aristoteles dan Frobel bermain merupakan kegiatan yang mempunyai nilai praktis. Artinya bermain digunakan sebagai media untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan tertentu pada anak; dan Hurlock menganggap bahwa bermain adalah setiap kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan yang ditimbulkan tanpa mempertimbangkan hasil akhir.
Bermain bagi anak, selain merupakan alat belajar juga merupakan kebutuhan bagi setiap anak. Manfaat bermain bagi anak adalah:
1. anak mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan diri, baik perkembangan fisik (melatih keterampilan motorik kasar dan motorik halus), perkembangan psiko sosial (melatih pemenuhan kebutuhan emosi), serta perkembangan kognitif (melatih kecerdasan)
2. bermain merupakan sarana bagi anak untuk bersosialisasi;
3. bermain bagi anak-anak adalah untuk melepaskan diri dari ketegangan;
4. bermain merupakan dasar bagi pertumbuhan mentalnya;
5. melalui bermain anak-anak dapat mengeluarkan energi yang ada dalam dirinya ke dalam aktivitas yang menyenangkan;
6. melalui bermain anak-anak dapat mengembangkan imajinasinya seluas mungkin. Mereka bisa menjadi raja/ratu, dapat menjadi hewan, menerbangkan pesawat ataupun membangun gedung yang megah:
7. melalui bermain anak-anak dapat berpetualang menjelajah lingkungan dan menemukan hal-hal baru dalam kehidupannya;
8. melalui bermain anak dapat belajar bekerja sama, mengerti peraturan, saling berbagi dan belajar menolong diri sendiri dan orang lain serta menghargai waktu;
9. bermain juga merupakan sarana mengembangkan kreativitas anak;
10. bermain dapat mengembangkan keterampilan olah raga dan menari;
11. Melatih konsentrasi atau pemusatan perhatian pada tugas tertentu.
Aspek–aspek perkembangan anak akan dapat berkembang atau dilatih ketika anak melakukan suatu permainan. Setiap permainan memiliki cara dan keistimewaan sendiri yang berbeda–beda dalam mengembangkan kemampuan setiap anak. Namun secara umum aspek yang dikembangkan ketika anak bermain atau melakukan suatu permainan adalah sebagai berikut. 1) Emosional, Anak dapat mengekspresikan perasaannya ketika bermain, menyalurkan rasa ingin tahu, kebanggaan, kesenangan, kesedihan, kemauan, berpusat pada diri sendiri, antusias dan penyesuaian diri dengan lingkungannya. 2) Intelektual (kognitif), dapat berupa kesiapan anak, kemampuan untuk menggambarkan hubungan antara lingkungan, kesadaran pada perubahan lingkungan, kepekaan intelektual merupakan kemampuan berpikir dengan cara-cara yang rasional untuk memutuskan secara efektif, pemecahan masalah dan mempelajari jenis-jenis benda. 3) Fisik-motorik, merupakan kemampuan untuk mengkoordinasikan visual dan gerakan dengan cara mengontrol tubuh. Aspek perkembangan fisik meliputi motorik kasar (gerakan anggota tubuh seperti kaki, tangan dan kepala serta badan) dan motorik halus (kemampuan jari–jari tangan seperti menulis, menggambar, mewarnai dan lain–lain). Perubahan perkembangan fisik mudah diamati. 4) Sosial, merupakan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, berkomunikasi dengan teman sebaya dan orang dewasa, memahami berbagai aturan dalam masyarakat, bekerjasama, menjadi bagian dari kelompok, tolong–menolong, mau berbagi, memahami perasaan dan kemampuan berhubungan dengan orang lain. 5) Bahasa, yang didefinisikan sebagai arti pengorganisasian berpikir, perasaan dan pemahaman kedalam ekspresi untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaannya kepada orang lain. 6) Seni, merupakan kemampuan untuk menciptakan sesuatu dari bahan-bahan yang ada yang dapat berguna, peningkatan kesadaran dan penggunaan pengalaman perseptual yang bervariasi dengan inti pada pengamatan visual dan penggunaan indra pada kegiatan bermain.. Bentuk-bentuk kreativitas dapat dihasilkan dari kebebasan mengeksplor, kebebasan emosi dan mencoba berbagai hal ketika anak bermain.

Sekilas tentang Permainan Membisikkan Pesan
Permainan Membisikan Pesan merupakan permainan tanpa alat, sehingga bisa dimainkan kapan saja. Permainan ini merupakan permainan yang bersifat kompetitif antara dua kelompok anak dengan masing-masing kelompok terdiri dari 3–10 anak terdiri dari anak laki-laki maupun perempuan, sehingga menimbulkan kebanggaan bagi kelompok yang memperoleh kemengangan lebih banyak. Biasanya kelompok yang kalah akan menantang kembali untuk bermain keesokan harinya.
Cara memainkan permainan ini adalah peserta bisa dibagi dalam dua kelompok. Tiap kelompok duduk dalam suatu barisan dari depan ke belakang. Pemimpin akan membisikkan sebuah kata/kalimat singkat ke telinga anak pertama, tanpa mengulanginya. Anak pertama tersebut meneruskan pesan tersebut pada orang kedua di belakangnya tanpa mengulangi kata/kalimat tersebut. Anak kedua meneruskan pada anak ketiga dan seterusnya. Pemimpin akan mengecek kembali kata/kalimat tersebut pada anak yang terakhir, apakah sesuai dengan pesan aslinya. Orang terakhir dari kelompok yang dapat menyebutkan pesan sesuai dengan aslinya keluar sebagai pemenang.
Aspek yang dikembangkan dalam permainan ini adalah: Bahasa (melatih indra pendengaran yaitu dengan berusaha mendengar suara yang sangat pelan (bisikan) dan memahami pesan yang harus disampaikan; Sosial (melatih kebersamaan, kekompakan, kerja sama, dan merasakan dirinya menjadi bagian dari kelompoknya serta mempunyai peran dalam kelompoknya dan sportivitas); Emosional (melatih anak untuk mengungkapkan perasaan, meluapkan kegembiraan jika menang, menahan diri untuk tidak membisiki pesan dengan keras, memotivasi teman serta tidak mudah menyerah).


Selengkapnya baca di: http://www.psppa.org/search/label/Jurnal

1 komentar: