Kamis, 15 Oktober 2009

UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI INDONESIA MELALUI PROGRAM PEMBELAJARAN AUDIO INTERAKTIF UNTUK GURU DAN ANAK DIDIK

Menggali Potensi Audio dan Radio Interaktif dalam Memberikan Layanan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia

Oleh:
Drs. Denny Setiawan, M.Ed., Dra. Sri Tatminingsih, dan Afnidar, SPd., M.Sc.

Paper/Makalah ini telah diseminarkan dalam
Persidangan Antar Bangsa Pembangunan Malaysia- Indonesia Sempena dan Peluncuran Alumni UKM Cawangan Indonesia
4-5 April 2009, Hotel Park Lane - Jakarta


ABSTRAK

Dewasa ini pemerintah Indonesia melalui Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini sedang menggalakkan program pendidikan anak usia dini yang mencakup usia 0 – 8 tahun. Dalam upaya penggalakkan program tersebut, pemerintah Indonesia menghadapi berbagai masalah, diantaranya yang menonjol adalah bagaimana membuat sebanyak mungkin anak usia dini ikut dalam program pengembangan anak usia dini dan bagaimana menciptakan program pendidikan anak usia dini yang berkualitas. Berbagai model pembelajaran telah dijajagi oleh pemerintah Indonesia untuk menemukan model pembelajaran anak usia dini yang sesuai dan berkualitas serta dapat diaplikasikan di berbagai kondisi daerah di Indonesia. Menanggapi hal tersebut, pada tahun 2006 Pemerintah Amerika Serikat melalui program Decentralized Basic Education 2 (DBE2) yang dikelola oleh USAID mengajak Universitas Terbuka (UT) dan Pusat Teknologi informasi dan Komunikasi Pendidikan (PUSTEKKOM) mengembangkan program pembelajaran untuk pembelajaran anak usia Taman Kanak-kanak melalui teknologi sederhana yaitu audio interaktif. Program tersebut secara simultan dapat digunakan untuk melatih guru atau calon guru TK yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan anak usia dini dan mengembangkan potensi anak didik secara optimal. Keikutsertaan berbagai pihak yang kompeten dalam pengembangannya, membuat program ini mampu mencapai kualitas yang tinggi dalam bidang pengembangan anak usia dini, khususnya usia 5-6 tahun. Teknologinya yang sederhana membuat program ini dapat diaplikasikan di berbagai kondisi daerah di Indonesia. Tulisan ini merupakan kajian tentang kemungkinan penerapan secara luas program IAI dan IRI di Indonesia dalam rangka memecahkan masalah pemerataan dan peningkatan layanan Pendidikan Anak Usia Dini di Indonesia
Pendahuluan

Dewasa ini Pemerintah Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini tengah gencar-gencarnya mengembangkan dan menyebarluaskan pendidikan anak usia dini (PAUD) ke seluruh pelosok Indonesia. Gerakan sadar PAUD ini dimulai dari timbulnya kesadaran pemerintah akan perlunya memperhatikan pendidikan anak sejak usia dini. Dalam upaya pemerataan dan peningkatan kualitas layanan PAUD, Pemerintah Indonesia menghadapi serangkaian masalah yang rumit. Berbagai model pendidikan jarak jauh telah dijajagi namun sampai saat ini tidak satupun model yang secara luas telah diaplikasikan ke seluruh pelosok Indonesia. Tulisan ini akan menguraikan peranan potensial yang dapat dimainkan oleh teknologi sederhana dalam membantu pemerintah Indonesia mensukseskan program layanan PAUD dan mendiskusikan apakah penggunaan CD player dan radio dapat menawarkan cara dengan biaya yang efektif (cost-effective) menuju pencapaian layanan PAUD berkualitas tinggi.

Sementara itu, program pembelajaran audio dan radio interaktif telah mencapai keberhasilan di dunia dalam beberapa dekade belakangan ini. Dengan pertimbangan tersebut, dalam rangka membantu Pemerintah Indonesia mengembangkan dan memeratakan layanan PAUD, The United States Agency for International Development (USAID) bermitra dengan Departemen Pendidikan Nasional Indonesia sedang mengimplementasikan program percontohan pembelajaran audio interaktif atau interactive audio instruction (IAI) untuk anak usia 5-6 tahun dan guru TK di tujuh provinsi. Tulisan ini mendiskusikan potensi IAI untuk menyampaikan layanan PAUD berkualitas tinggi dan kemungkinan mengambil program percontohan IAI sebagai sarana untuk memperluas layanan PAUD ke seluruh Indonesia. Tulisan ini menyimpulkan, dengan melihat pada tantangan pendidikan dasar yang lebih luas, pembelajaran audio dan radio interaktif dapat berperan dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dasar Indonesia.



Latar Belakang

Berbagai studi yang dilakukan secara luas, telah secara jelas menunjukkan peranan PAUD dalam mengembangkan keterampilan kecakapan sekolah; akan tetapi di Indonesia, tingkat penerimaan anak usia 4-6 tahun secara nasional dalam pelayanan PAUD masih sangat rendah. Angka statistik menunjukkan bahwa anak berusia 4-6 tahun yang mendapat layanan PAUD bervariasi antara 8, 15 dan 20 persen (World Bank, 2006). Hal ini berarti bahwa mayoritas anak Indonesia tidak mendapatkan layanan PAUD.

Jika dilihat dari besarnya investasi yang telah ditanamkan pemerintah Indonesia dalam pendidikan, maka dapat dikatakan bahwa seluruh investasi Indonesia dalam pendidikan masih sangat kecil dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. Investasi untuk pendidikan anak usia dini lebih kecil lagi, dimana pelayanan utama disediakan hampir 100% justru oleh sektor swasta. Pengguna utama pelayanan anak usia dini adalah anak dari masyarakat berpenghasilan besar (Unesco, 2005). Sementara anak yang berasal dari keluarga berpendapatan rendah tidak dapat menikmati program kesiapan sekolah sebelum masuk ke Sekolah Dasar. Berbagai studi menunjukkan bahwa terdapat hubungan langsung antara banyaknya anak yang mendapat layanan PAUD dengan rendahnya tingkat droup out sekolah dan anak yang mengulang kelas. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila kita melihat bahwa di Indonesia, di daerah dengan droup out sekolah yang tinggi, anak-anak yang mendapat layanan PAUD masih sangat rendah (Unesco, 2005).

Menyadari pentingnya PAUD, Departemen Pendidikan Nasional menaruh perhatian besar pada penyediaan layanan PAUD di seluruh Indonesia, yaitu mengupayakan layanan yang lebih luas dan lebih berkualitas. Rencana stratejik Departemen Pendidikan Nasional menyatakan bahwa di akhir tahun 2009 paling sedikit terdapat satu lembaga PAUD di setiap kabupaten. Untuk itu pemerintah merencanakan untuk memberikan dana lebih dari 50% kepada lembaga PAUD yang melayani anak dari keluarga berpenghasilan rendah. Di lain pihak, pelatihan dan peningkatan kemampuan pendidik PAUD, termasuk guru Taman Kanak-kanak (TK), merupakan prioritas penting lainnya dari pemerintah. Direncanakan pada tahun 2009 akan dilatih 65.000 orang terdiri dari pengelola dan guru PAUD (The World Bank, 2006, No:2)

Selaras dengan tujuan PAUD yang dicanangkan pemerintah Indonesia, USAID Decentralized Basic Education Program’s Teaching and Learning Component (DBE 2) telah bermitra dengan dua institusi di bawah Departemen Pendidikan Nasional yaitu Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) dan Universitas Terbuka (UT), dalam rangka mengembangkan program audio interaktif. Program ini, yang meliputi paket audio dan bahan ajar cetak untuk TK dan lembaga PAUD, mempunyai target anak usia 5-6 tahun dan guru TK dengan mengikuti kurikulum nasional TK Indonesia. Program ini didisain untuk memenuhi kebutuhan guru dan pendidik PAUD yang berpendidikan rendah dan tidak terlatih di Indonesia, dan secara simultan menyediakan materi kegiatan yang relevan dan berkualitas tinggi kepada anak TK. Seluruh program audio ini berbasis metodologi IAI yang mendorong belajar-mengajar aktif di TK.

Program percontohan IAI akan dilakukan selama 3 tahun dan akan menguji efektifitas model IAI ini dengan melibatkan kurang lebih 200 TK di 7 propinsi di Indonesia. Hasilnya akan menunjukkan apakah IAI merupakan pendekatan yang efektif termasuk dari segi biaya untuk memenuhi tujuan Departemen Pendidikan Nasional dalam memperluas dan meningkatkan kualitas pelayanan PAUD. Proyek percontohan IAI saat ini sedang diimplementasikan di 200 TK (baik TK nasional maupun Islami) dan lembaga PAUD di 7 propinsi, yaitu Aceh, Sumatra Utara, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Utara.



Apakah IAI itu?

IAI adalah sebuah metode pendidikan berbasis audio yang secara aktif melibatkan anak yang didisain secara hati-hati, dan direkam pada kaset, CD atau MP3 player. Pendekatan berbasis audio memungkinkan kualitas yang tinggi dan relatif murah untuk didistribusikan secara luas. Materinya sesuai dengan muatan lokal karena diproduksi dan diujicoba di Indonesia dengan kontrol kualitas yang dilakukan secara ketat. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa semua anak menerima materi yang telah distandarisasi. IAI juga dikenal dengan nama Pembelajaran Radio Interaktif atau Interactive Radio Instruction (IRI), perbedaan yang utama dengan IAI adalah program IRI disiarkan melalui radio. IRI dikembang pada tahun 1970an untuk memecahkan masalah prestasi belajar yang rendah dalam bidang matematika di SD Nicaragua. Sejak itu, banyak pemerintah di dunia telah mengadopsi metodologi ini untuk memberikan berbagai macam mata pelajaran kepada anak dengan berbagai latar belakang yang berbeda, termasuk masyarakat yang sulit terjangkau dan jauh dari sekolah formal. Jika digunakan dengan benar, IAI/IRI dapat menjadi sumber belajar yang efektif untuk melatih guru dan anak secara simultan, membangun keterampilan guru dan membuat mereka mampu memainkan peranan yang lebih aktif, sehingga terjadi proses belajar mengajar yang lebih interaktif.

Studi tentang program IAI dan IRI di lebih dari 24 negara selama 25 tahun terakhir secara jelas menunjukkan perbaikan yang konsisten dalam prestasi sekolah. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa anak yang menerima IAI/IRI dalam kegiatan belajar informal menunjukkan prestasi yang sama atau lebih baik dari mereka yang belajar di sekolah negeri. Penelitian juga mengindikasikan bahwa anak di sekolah negeri yang menggunakan IRI menunjukkan prestasi yang lebih baik dari mereka yang belajar di sekolah yang tidak menggunakan IRI (Education Development Center, 2007)

IAI/IRI telah terbukti menjadi mekanisme yang efektif untuk melatih komunitas pendidik yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan guru dan guru yang hanya mendapat sedikit pendidikan guru, menjadi guru yang lebih baik. IAI/IRI juga dapat menyediakan pendidikan kepada mereka yang tidak terjangkau oleh pendidikan konvensional–seperti mereka yang hidup di daerah terpencil atau mereka yang tidak mampu masuk ke sekolah konvensional. Pada tahun belakangan ini, program IAI/IRI telah didisain dan diimplementasikan di pra-sekolah, SD dan luar sekolah serta guru dan komunitas pendidik di berbagai negara, termasuk India, Mesir, Zambia, Nigeria and Honduras.

Penting untuk dicatat bahwa program IAI/IRI tidak didisain untuk merubah struktur pendidikan yang ada, tetapi apabila berhasil diaplikasikan, dapat menjadi sistem belajar yang melengkapi dan memperkuat kurikulum nasional. Program IAI/IRI didisain secara hati-hati sehingga dapat diaplikasikan dalam berbagai setting, termasuk formal dan non-formal.

Mengapa pembelajaran audio interaktif merupakan pilihan yang menjanjikan untuk menjembatani kesenjangan PAUD di Indonesia?

Sejumlah pengalaman global secara jelas menunjukkan bahwa jika dikembangkan dengan hati-hati dan diaplikasikan secara efektif, program IAI/IRI dapat membantu pemerintah dalam menjawab tantangan-tantangan dalam pendidikan, termasuk penyediaan layanan pendidikan berkualitas tinggi.

Kualitas

Tujuan program percontohan IAI adalah mengembangkan kualitas belajar mengajar PAUD dan meningkatkan kesiapan sekolah melalui:
menyediakan materi kegiatan berkualitas tinggi yang mengikuti kurikulum TK Nasional
secara simultan melatih guru dan mengajar anak
memfasilitasi belajar aktif dengan pendekatan berbasis PAKEM

Dalam rangka menjamin program yang berkualitas untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, proyek DBE 2 mengikuti suatu proses pengembangan yang sistematis dan telah terbukti efektif. Materi didisain berdasarkan praktek PAUD yang telah dikenal baik di Indonesia, mengikuti kurikulum nasional dan menggunakan materi PAUD yang kaya yang telah tersedia di Indonesia, termasuk lagu, cerita dan permainan. Untuk menjamin agar materi relevan dengan berbagai setting di Indonesia, tim pengembang yang terdiri dari unsur DBE 2, Pustekkom dan UT, bekerja secara dekat dengan berbagai stakeholder PAUD di Indonesia, termasuk orang-orang dari Direktorat PAUD, Ikatan Guru Taman Kanak-kanak (IGTK), perguruan tinggi yang menyelenggarakan program PAUD, dan guru-guru TK dari berbagai propinsi.

Suatu tim penulis naskah dari Pustekkom bertanggung jawab menulis naskah program audio yang kemudian diedit oleh ahli materi dari UT. Program diproduksi di Pustekkom dan diuji coba di dua atau tiga TK yang berbeda sebelum revisi dan produksi akhi dilakukan. Proses ini membantu menjamin bahwa kegiatan-kegiatan dalam program audio sesuai dan dapat dinikmati semua anak dan guru sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai. Semua materi cetak juga melewati evaluasi formatif dan proses revisi.

Masing-masing TK dan lembaga PAUD yang berpartisipasi dalam program percontohan menerima paket materi yang meliputi:
• 1 CD player dan batere
• 106 CD berisi 40 menit program IAI
• Petunjuk Guru
• Empat Poster
• Lembar Kerja Anak
• Kartu nomor dan kartu huruf
• Gunting dan crayon

Guru TK yang berpartisipasi dalam program percontohan, mendapatkan pelatihan minimal dua kali yaitu cara menggunakan paket tersebut dan cara meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menggunakan IAI.

Biaya

Studi yang luas mengidentifikasikan bahwa pengembangan dan penggunaan IAI/IRI berbiaya rendah jika dibandingkan dengan penyediaan layanan program yang berkualitas lainnya. Ketika dibandingkan dengan model penyampaian pendidikan konvensional dan teknologi lainnya, model IAI/IRI membuktikan lebih murah dalam hal pembiayaan. Biaya program televisi misalnya, biasanya sepuluh kali lebih tinggi per murid dari pada program radio (The World Bank, 2005, No: 52)

Praktis

UT saat ini menyediakan in-service training kepada kurang lebih 10,000 guru TK/PAUD dengan menggunakan pendekatan multi-media untuk menyampaikan materi yang sebagian besar bersifat teori. UT sedang menjajagi program percontohan IAI sebagai sarana untuk memperluas in-service training programnya, dan menambah elemen “belajar sambil melakukan” pada program pelatihannya. Model in-service UT yang dikembangkan berdasarkan program percontohan akan sangat membantu Departemen Pendidikan Nasional dalam mencapai target pelatihan dan upgrading 65,000 guru PAUD pada tahun 2009.

Dapatkah pembelajaran audio and radio interaktif membantu Pemerintah Indonesia menjawab tantangan pendidikan dasar?

Pemerintah Indonesia mempunyai rencana upgrading guru yang ambisius, membutuhkan lebih dari satu juta guru untuk menambah kualifikasi mereka pada tahun 2015. Dapatkah IAI/IRI menjadi sumber belajar yang murah yang dapat membantu pemerintah Indonesia memenuhi kebutuhan upgrading? Studi yang dilakukan di sejumlah negara mengindikasikan bahwa program IAI/IRI merupakan sarana yang efektif dalam mendukung pengembangan guru. Beberapa negara, termasuk Africa Utara, Guinea and Nigeria, sekarang telah mengimplementasikan IAI/IRI dengan sukses berdasarkan program pelatihan guru pre-service dan in-service. Dan, seperti telah dibicarakan sebelumnya, UT sedang mencari kemungkinan untuk guru PAUD dan mencoba mengintegrasikan program IAI ke dalam program pelatihan guru in-servicenya. Mempertimbangkan hal itu maka pendekatan IAI/IRI dapat lebih murah biayanya dari pada pelatihan tatap-muka traditional (face-to-face training). Program audio berbasis pelatihan guru akan menjadi pilihan yang menarik untuk dieksplorasi oleh Departemen Pendidikan Nasional.

Dapatkah model IAI/IRI diaplikasikan untuk memecahkan masalah perluasan akses dan distribusi pendidikan dasar? Sistem belajar berdasarkan audio telah terbukti dapat menjadi sarana yang efektif untuk mencapai jumlah murid yang banyak yang terisolasi oleh jarak dan infrastruktur yang miskin. Hal ini didukung oleh fakta bahwa IAI/IRIdapat diaplikasikan dengan efektif , baik dalam setting formal maupun non-formal oleh guru atau fasilitator orang dewasa lainnya. IAI/IRI adalah metode yang telah terbukti menyediakan pendidikan berkualitas tinggi pada populasi yang sulit dijangkau dan jauh dari sekolah. Studi menunjukkan bahwa tingkat prestasi anak pedesaan yang menggunakan program IAI/IRI hampir sama tingginya dengan prestasi anak-anak diperkotaan. (The World Bank, 2005, No:52)

Di banyak bagian di Indonesia, kelas multigrade menimbulkan tantangan bagi guru. Di Papua, sebagai contoh, sekolah umumnya hanya mempunyai satu guru, meskipun pemerintah sudah berusaha meningkatkan pendapatan dan fasilitas guru sebagai insentif. (The World Bank, 2005, No:52). Meskipun sampai sekarang mayoritas program IAI/IRI hanya didisain untuk memenuhi satu tingkat kelas saja, namun tidak tertutup kemungkinan untuk mengaplikasikan IAI/IRI dalam memfasilitasi pembelajaran multigrade. Di India, sebagai contoh, program IRI yang didanai USAID telah dikembangkan untuk mendukung pembelajaran science dan matematika untuk mengombinasikan kelas lima/enam. Di Costa Rica, sebuah program IRI dikembangkan untuk guru kelas lima-enam.

Sementar ini, Indonesia, dalam menghadapi tantangan yang besar dalam rangka mengembangkan model PAUD yang komprehensif dan mencapai tujuan pendidikan dasar, telah memiliki sumber yang diperlukan untuk menjawab tantangan tersebut secara efektif. Tim DBE 2, Pustekkom dan UT telah mengantisipasi bahwa program percontohan IAI tidak hanya menunjukkan efektivitas IAI sebagai sebuah model untuk menjembatani kesenjangan PAUD di Indonesia, tetapi juga menunjukkan potensi IAI dan IRI untuk membantu Departemen Pendidikan Nasional dalam memenuhi kebutuhan pendidikan dasar.




DAFTAR PUSTAKA

World Bank, (2004) “Early Childhood Education and Development in Indonesia An Investment for a Better Life,” Working Paper Series No. -2.

UNESCO, (2005) “Policy Review Report: Early Childhood Care and Education in Indonesia,” Early Childhood and Family Policy Series, Number 10.

Education Development Center, (2007). “Proof of Concept Study: Testing the Use of Interactive Radio Instruction (IRI) for Entrepreneurship Training with Adults,”.

The World Bank, (2005). “Improving Educational Quality through Interactive Radio Instruction,” Africa Region Human Development Working Papers Series No. 52,.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar